Tragedi Grasberg Guncang Pasar Tembaga Global: Defisit Pasokan Mengintai hingga 2027

Reuters – 29 September 2025 — Bencana lumpur di tambang Grasberg milik Freeport-McMoRan di Papua, Indonesia, menegaskan rapuhnya rantai pasok tembaga dunia.

Pada 8 September, sekitar 800.000 ton lumpur menerjang area Block Cave, menewaskan dua pekerja dan membuat lima lainnya hilang. Operasi tambang dihentikan total, dengan pemulihan penuh diperkirakan baru bisa terjadi pada 2027.

Produksi Grasberg pada 2024 mencapai 815.000 ton, atau 4% dari pasokan global. Kini, analis memproyeksi kerugian produksi hingga 600.000 ton sampai akhir 2026. Guidance penjualan Freeport untuk 2025–2026 bahkan sudah dipangkas 35%.

Akibatnya, harga tembaga di London Metal Exchange melonjak ke US$ 10.485/ton, tertinggi dalam 15 bulan terakhir.

Pasokan Terguncang: Dari Grasberg ke Pasar Global
Benchmark Mineral Intelligence (BMI) memperkirakan defisit pasokan global pada 2026 melebar dari hanya 72.000 ton menjadi 400.000 ton. Citi bahkan melihat potensi defisit tambahan 350.000 ton pada 2027 jika harga tidak cukup tinggi untuk memicu suplai baru.

Rencana Indonesia menghentikan ekspor konsentrat tembaga mentah pada Oktober demi menyuplai smelter Manyar (kapasitas 480.000 ton/tahun) kini terancam terganggu.

Bencana ini menambah daftar insiden besar tahun ini, termasuk banjir di tambang Kakula (DRC) dan runtuhnya terowongan di El Teniente (Chile) yang menewaskan enam orang.

Dengan 20 tambang terbesar dunia menguasai 36% produksi global, setiap gangguan berarti guncangan besar pada pasar — sebagaimana yang kini tengah dirasakan.

Sahat N
Author: Sahat N

Leave a Comment