ABC/CGTN – 11 November 2025 — Ketergantungan Australia terhadap ekspor bijih besi ke China, yang selama puluhan tahun menjadi penopang utama pendapatan nasional, kini menghadapi ancaman serius dari proyek tambang Simandou di Guinea, Afrika Barat — yang dijuluki “Pilbara Killer.”
Proyek raksasa tersebut, yang dibiayai dan dikendalikan sekitar 75% oleh kepentingan China, siap melakukan pengiriman perdana pekan ini. Simandou diperkirakan akan memproduksi bijih besi berkadar tinggi 65–67%, jauh di atas rata-rata produksi Australia (56–62%), dengan cadangan lebih dari 4 miliar ton. Ketika beroperasi penuh dalam lima tahun ke depan, tambang ini akan menambah 7% pasokan global, menekan harga dunia yang kini bertahan di sekitar US$100 per ton.
Analis Wilson Advisory memperkirakan harga bijih besi dapat turun ke US$85 per ton dalam dua tahun ke depan, bahkan berpotensi menembus di bawah US$70. Setiap penurunan US$10 harga bijih besi diproyeksikan memangkas pendapatan pajak Australia hingga US$1,3 miliar.
China selama ini menjadi pembeli utama, menyerap sekitar 60% ekspor bijih besi Australia, namun kini memegang kendali lebih besar setelah membentuk China Mineral Resources Group untuk menegosiasikan harga secara kolektif dengan pemasok global.
Kunjungan Wakil Perdana Menteri China Liu Guozhong ke Guinea dan Sierra Leone pekan ini menandai dimulainya operasional tambang Simandou. Ia hadir sebagai utusan khusus Presiden Xi Jinping, mempertegas strategi Beijing mengamankan pasokan bahan baku industri baja dan memperkuat dominasinya di rantai pasok logam global.
Ikuti saluran Indomine