Tren Global Bergeser ke LFP, Industri Nikel Indonesia Diminta Adaptasi

NikelID – 13 November 2025 — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memberi peringatan serius terhadap strategi hilirisasi nikel nasional. Di saat Indonesia mendominasi 67% produksi nikel global dan mengalami surplus 219 ribu ton (2025), tren baterai kendaraan listrik (EV) dunia justru bergeser cepat ke Lithium Ferro Phosphate (LFP), yang tidak membutuhkan nikel.

Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey (7/11), mengungkap data krusial dari LME Conference 2025: porsi permintaan nikel untuk sektor EV anjlok drastis tahun ini, turun dari 37% menjadi hanya 18%.

“Saya sendiri pengguna EV, tapi kalau disuruh memilih, saya pilih LFP karena lebih murah [dan] biaya perawatan rendah,” ujar Meidy di Tangerang.

Meski Indonesia telah memiliki 12 pabrik hidrometalurgi (HPAL) untuk memproduksi bahan baku baterai (MHP, Nikel Sulfat), APNI khawatir Indonesia terjebak kelebihan produksi jika pasar global tidak menyerap.

“Kalau kita produksi terus tanpa memperhatikan demand, ya nanti mau jual ke mana?” tegas Meidy. Ia mendesak pemerintah mengevaluasi kebijakan dan tidak jor-joran produksi bahan baku baterai nikel (NMC), mengingat Jepang sudah melirik hidrogen. “Kita harus siap beradaptasi.”

Ikuti saluran Indomine • Batu Bara & Nikel

Leave a Comment