TheStreet/Bloomberg – 19 November 2025 — Harga emas dunia mulai bangkit pagi ini setelah tiga hari beruntun anjlok hingga 3,55%. Harga spot tercatat US$ 4.071,2/ons (Rabu, 19/11, 07:17 WIB), mendorong harga Emas Antam naik Rp 21.000 menjadi Rp 2.343.000/gram.
Kebangkitan ini diyakini sebagian investor sebagai aksi ‘bargain hunting’ setelah emas dianggap “murah” pasca-koreksi signifikan (2,95% sepekan, 6,57% sebulan).
Sinyal Berlawanan dari The Fed & Goldman Sachs:
- The Fed (Jangka Pendek): Ekspektasi penurunan suku bunga AS pada Desember semakin meredup, dengan 53,4% probabilitas The Fed ‘Hold’, menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding.
- Goldman Sachs (Jangka Panjang): Meskipun volatilitas terkini, Goldman Sachs mempertahankan target harga emas $4.900 pada akhir 2026. Bank investasi ini melihat penarikan harga baru-baru ini bersifat jangka pendek dan didukung oleh tiga katalis utama:
1. Pembelian Bank Sentral: Diperkirakan rata-rata 80 ton/bulan hingga 2026 (China beli 15 ton September).
2. Yield Obligasi Turun: Imbal hasil obligasi AS (10-tahun) turun dari 4,77% (Jan) ke 4,14% (saat ini).
3. Dolar AS Melemah: Indeks Dolar AS melemah dari 109 menjadi 99,5.
Goldman Sachs juga menyoroti peningkatan arus masuk ETF emas dan pembelian bank sentral yang kuat secara bersamaan, menunjukkan dukungan berkelanjutan untuk emas.
Ikuti saluran Indomine