Sejarah Lasem yang Menghasilkan Batik sejak Abad ke-15
Budaya Nusantara

Sejarah Lasem yang Menghasilkan Batik sejak Abad ke-15

HARI Batik Nasional 2 Oktober selalu jadi momen untuk merayakan kekayaan warisan budaya Nusantara. Salah satu warisan yang menarik perhatian itu ada di Kampung Batik Lasem di Rembang, Jawa Tengah. Sejak lama, kampung ini dikenal sebagai penghasil batik pesisir bercorak unik hasil perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa.

Kampung Batik Lasem dikenal sebagai destinasi wisata budaya dengan nuansa kota tua dan peranakan Tionghoa. Batiknya khas dengan warna merah darah ayam dan biru, bermotif perpaduan Jawa-Tionghoa, serta dibuat secara tradisional dengan teknik tulis, sehingga bernilai seni tinggi dan berharga mahal.

Sejarah Kota Batik Lasem

Dilansir dari Lasem Heritage Foundation, batik telah diproduksi di Lasem setidaknya sejak abad ke-15, bersamaan dengan orang Cina belajar Jung atau kapal dengan misi dagang atau ekspedisi.

Alkisah, belasan abad silam, Lasem merupakan titik pertama pendaratan pelayar dan saudagar Cina di Pulau Jawa. Berkembanglah pemukiman Tiongkok di Lasem dengan kerajinan batiknya.

Dengan sistem produksi berbasis rumah dan ribuan pembatik, mayoritas perempuan, Lasem berkembang sebagai pusat batik pesisiran, menggunakan kain katun impor dan malam dari Timor, sehingga menghasilkan batik khas bernilai tinggi.

Masa kejayaannya terjadi sekitar 1860-an ketika industri batik menjadi usaha paling menguntungkan setelah perdagangan candu, bahkan diekspor ke Singapura dan Sri Lanka dengan ribuan pekerja. Motifnya memadukan simbol Tionghoa dan lokal, termasuk kain panjang dan tokwi untuk altar persembahan. Namun, sejak 1970-an industri batik Lasem mengalami penurunan, dari 144 perusahaan saat itu menjadi hanya sekitar 30 pada 2015.

Keunikan Batik Lasem

Dilansir dari Pemerintahan Kabupaten Rembang, batik Lasem memiliki motif khas perpaduan budaya Tionghoa dan lokal, seperti burung hong, naga, serta bambu, yang dipadukan dengan motif asli Lasem seperti latoan dan watu pecah (kricak).

Motif latoan terinspirasi dari tanaman laut sejenis rumput yang banyak ditemukan di pesisir Lasem dan biasa dikonsumsi sebagai urap. Sementara itu, motif watu pecah memiliki makna historis, merujuk pada masa pembangunan jalan Anyer-Panarukan di era Daendels. Saat itu banyak pemuda Lasem dipaksa bekerja sebagai pemecah batu dan wabah malaria serta influenza menimbulkan banyak korban jiwa. Rasa duka masyarakat Lasem kala itu kemudian diwujudkan dalam motif batu/watu pecah, yang akhirnya banyak ditiru daerah lain karena keindahannya.

Batik Lasem juga dikenal dengan warna khas getih pitik (merah darah ayam), hijau botol bir, dan biru tua. Selain itu, batik Lasem memiliki varian istimewa bernama batik tiga negeri, yang disebut demikian karena melalui tiga tahap proses pewarnaan.

sumber: tempo.co

Author: Mata Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *