Destinasi & Tempat Menarik,  Wisata

Museum Zoologi Bogor (MZB) sebagai Pusat Rujukan Fauna Global

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berkomitmen untuk memperkuat peran Museum Zoologi Bogor (MZB) sebagai pusat rujukan utama untuk koleksi ilmiah hewan atau fauna di Indonesia. Dengan reputasinya yang telah mendunia, MZB kini diakui sebagai salah satu museum zoologi terbesar di Asia Tenggara dan menempati peringkat sepuluh besar di dunia dalam hal kekayaan serta kelengkapan spesimen ilmiahnya.

Jejak Sejarah: Dari Laboratorium Pertanian ke Fasilitas Bertaraf Internasional

Museum Zoologi Bogor memiliki sejarah panjang yang merentang lebih dari satu abad.

  • 1894: Berdiri pada 23 Agustus dengan nama awal Landbouw Zoologisch Laboratorium (Laboratorium Zoologi Pertanian), yang digagas oleh ahli botani terkemuka asal Belanda, J.C. Koningsberger.

  • Perkembangan: Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya fokus penelitian, lembaga ini mengalami beberapa kali transformasi nama hingga akhirnya dikenal luas sebagai Museum Zoologi Bogor.

  • 1997: Guna mendukung modernisasi dan pelestarian, seluruh koleksi ilmiah dipindahkan dari pusat kota Bogor ke kawasan Cibinong (kini dikenal sebagai Cibinong Science Center). Kepindahan ini didukung oleh pembangunan fasilitas berstandar internasional yang didanai melalui hibah dari Bank Dunia dan pemerintah Jepang.

Kekayaan Keanekaragaman Hayati: Mengelola Jutaan Spesimen

Saat ini, MZB berperan sebagai arsip hidup keanekaragaman hayati nusantara, mengelola lebih dari satu juta spesimen yang sangat beragam. Berdasarkan keterangan tertulis dari Darmawan, perwakilan Tim Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hewan MZB pada 9 Desember 2025, rincian koleksi tersebut meliputi:

  • Serangga: > 1.070.000 spesimen (mendominasi keseluruhan koleksi).

  • Moluska dan Ikan: ~ 143.000 spesimen.

  • Amfibi: > 101.000 spesimen.

  • Reptil: ~ 91.000 spesimen.

  • Mamalia: > 85.000 spesimen.

  • Arthropoda Lainnya: ~ 78.000 spesimen.

  • Burung dan Krustasea: Puluhan ribu spesimen.

  • Kelompok Mikro/Lainnya: Spesimen Echinodermata, Nematoda, dan Platyhelminthes dalam jumlah yang lebih spesifik, namun memiliki nilai krusial sebagai referensi ilmiah.

Proses Preservasi dan Kurasi Berstandar Global

Untuk menjaga kualitas spesimen dalam jangka panjang, Darmawan menjelaskan bahwa setiap koleksi harus melewati serangkaian tahapan kurasi dan preservasi yang sangat ketat dan terstandarisasi. Tahapan tersebut mencakup:

  1. Eksplorasi: Pengumpulan sampel secara etis dan ilmiah di habitat asli.

  2. Preparasi: Pembuatan awetan basah (menggunakan alkohol/formalin) maupun awetan kering.

  3. Pelabelan dan Identifikasi: Pencatatan taksonomi secara presisi.

  4. Dokumentasi dan Digitalisasi: Mengubah data fisik menjadi basis data digital agar mudah diakses oleh peneliti global.

  5. Sterilisasi: Perawatan ekstrem menggunakan suhu hingga minus 20 derajat Celsius untuk mematikan hama perusak koleksi (seperti jamur atau serangga pemakan bangkai).

Pemanfaatan Riset dan Layanan Publik

Koleksi ilmiah di MZB bukan sekadar barang pajangan atau arsip pasif. Spesimen-spesimen ini merupakan fondasi bagi berbagai inisiatif ilmiah dan kebijakan, antara lain:

  • Pengembangan Ilmu Pengetahuan: Menjadi basis data untuk penelitian taksonomi, sistematika evolusi, serta pemantauan biodiversitas.

  • Konservasi dan Kesehatan: Membantu penyusunan status konservasi spesies terancam punah, serta mendukung riset bioteknologi dan kesehatan masyarakat (misalnya pemetaan vektor penyakit).

  • Layanan Identifikasi: Menyediakan layanan identifikasi fauna resmi bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, hingga instansi pemerintah dan swasta. Layanan ini sangat penting untuk pengambilan kebijakan publik berbasis data ilmiah (evidence-based policy).

  • Edukasi: Menjadi media pembelajaran interaktif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam.

Melalui sinergi pengelolaan yang terintegrasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur canggih, BRIN optimis bahwa Museum Zoologi Bogor akan terus memiliki daya saing global. “Kami harapkan kekayaan koleksi ilmiah hewan yang dimiliki dapat terus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan Indonesia,” pungkas Darmawan.

Author: Mata Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *