Sumur Jobong di Kampung Pandean, Peneleh, Surabaya, yang ditemukan pada 2018 saat proyek pembangunan drainase. Sumur kuno ini diduga merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit dan menjadi salah satu bukti awal peradaban di kawasan delta Sungai Kalimas. (disbudporpar.surabaya.go.id)
Destinasi & Tempat Menarik

Menjelajahi Lorong Waktu di Surabaya: Pesona Sumur Jobong, Harta Karun Era Majapahit di Kampung Peneleh

Halo, travelers! Jika Anda berpikir Surabaya hanya sekadar kota metropolitan yang sibuk atau sekadar saksi bisu perjuangan kemerdekaan, bersiaplah untuk terkejut. Tepat di jantung permukiman padat Kampung Peneleh, tersembunyi sebuah “mesin waktu” yang akan membawa Anda mundur jauh ke era kejayaan Nusantara.

Perkenalkan, Sumur Jobong—sebuah keajaiban arkeologis peninggalan Kerajaan Majapahit yang menjadi bukti nyata bahwa kawasan delta Sungai Kalimas telah berdenyut dengan kehidupan sejak berabad-abad silam!

Misteri yang Terungkap Tanpa Sengaja

Kisah penemuan situs ini sangat dramatis, layaknya film petualangan. Pada 8 Oktober 2018, para pekerja sedang melakukan penggalian rutin untuk proyek gorong-gorong (box culvert) guna mengatasi banjir di Jalan Pandean Gang I, Kelurahan Peneleh. Di kedalaman sekitar satu meter, cangkul mereka membentur sesuatu yang keras.

Awalnya, benda itu nyaris dihancurkan karena dikira puing biasa. Namun, setelah diamati, struktur berbentuk huruf “C” dari tanah liat itu ternyata adalah bibir sebuah sumur kuno! Bersama sumur tersebut, ditemukan pula kepingan sejarah lain: pecahan gerabah, bata kuno, fragmen guci keramik, hingga potongan tulang manusia. Warga pun segera melapor, dan sejarah Surabaya pun harus ditulis ulang.

Apa Keunikan Sumur Jobong?

Bagi Anda yang menyukai destinasi wisata anti-mainstream, situs ini menawarkan keunikan yang luar biasa:

  • Arsitektur Terakota Kuno: Kata Jobong berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti ruang atau kamar. Dalam arkeologi, ini merujuk pada struktur cincin sumur dari tanah liat (terakota) yang ditumpuk. Sumur ini tersusun dari tiga lapisan jobong dengan kedalaman 2 meter, lebar 83 cm, dan ketebalan bibir sumur 2,5 cm.

  • Air yang Tak Pernah Kering: Inilah magisnya Sumur Jobong! Entah kemarau panjang atau musim hujan, mata air ini terus mengalirkan air jernih. Juru pelihara situs, Bapak Agus Santoso, secara rutin menimba airnya setiap hari agar sirkulasi terjaga.

  • Ritual dan Sentuhan Spiritual: Meski penelitian modern tidak menyarankan air ini untuk diminum langsung, banyak wisatawan dan peziarah yang membasuh wajah atau tangan mereka di sini karena dipercaya memiliki nilai spiritual dan membawa kesegaran tersendiri.

  • Pengalaman Lokal yang Autentik (In Situ): Alih-alih dipindahkan ke museum yang kaku, pemerintah dan sejarawan sepakat mempertahankan sumur ini di lokasi aslinya (insitu). Berada tepat di jalan kampung selebar 3-4 meter yang diapit rumah warga, kunjungan ke sini memberikan sensasi blusukan dan keramahan lokal yang tak terlupakan.

Jejak Pusat Peradaban Majapahit di Surabaya

Penemuan Sumur Jobong bukanlah kebetulan. Bentuknya sangat identik dengan sumur-sumur kuno yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto (ibu kota Majapahit). Di masa lalu, sumur ini adalah urat nadi kehidupan masyarakat—digunakan untuk air minum, pertanian kecil, hingga ritual suci.

Eksistensi peradaban kuno di lokasi ini bahkan terekam kuat dalam Prasasti Canggu (7 Juli 1358). Prasasti tersebut menyebutkan Pandaean Panile (Pandean Peneleh) sebagai salah satu nahdi tira paradesa (desa-desa di tepian sungai) yang menjadi jalur perdagangan dan transportasi sibuk di era Majapahit, jauh sebelum Surabaya modern lahir.

Tips Berkunjung

  • Lokasi: Jalan Pandean Gang I, Kelurahan Peneleh, Kec. Genteng, Surabaya.

  • Akses: Karena jalannya sempit dan berada di tengah perkampungan, disarankan memarkir kendaraan roda empat di luar gang dan melanjutkan dengan berjalan kaki santai sambil menikmati suasana kampung tua Surabaya.

  • Etika: Mintalah izin dan sapalah warga sekitar, serta patuhi arahan juru pelihara situs demi menjaga kelestarian cagar budaya ini.

Author: Mata Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *