SXCoal/Argus — 11 Desember 2025 — Peta energi global menunjukkan dinamika yang kontras di penghujung tahun 2025. Di saat Australia merevisi peta jalan energinya dengan mempertahankan pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 2049, raksasa Asia seperti China, India, dan Vietnam justru mencatatkan fluktuasi signifikan pada volume impor batu bara mereka akibat melimpahnya pasokan domestik dan transisi ke energi yang lebih bersih.
Australia Batu Bara Bertahan, Biaya Grid Tembus US$128 Miliar
Operator Pasar Energi Australia (AEMO) memproyeksikan kapasitas pembangkit batu bara akan tetap beroperasi hingga pertengahan abad ini, meskipun energi terbarukan ditargetkan menggantikan posisi batu bara sebagai sumber utama. Biaya untuk meningkatkan infrastruktur jaringan energi diproyeksikan mencapai US$128 miliar demi memfasilitasi lonjakan konsumsi listrik yang diperkirakan naik dua kali lipat pada 2050.
Saat ini, energi terbarukan menyumbang hampir 43% dari total pembangkitan. AEMO juga merevisi kebutuhan transmisi turun menjadi 6.000 km dengan estimasi biaya US$9 miliar, setelah pembatalan proyek pumped hydro besar di Queensland. Diperkirakan dua pertiga pembangkit batu bara yang tersisa akan ditutup dalam dekade mendatang, digantikan oleh pembangkit gas baru yang hanya akan beroperasi sekitar 7% dari kapasitas tahunannya sebagai cadangan.
China & Vietnam Impor Batu Bara Tertekan
Di China, impor batu bara pada November tercatat 44,05 juta ton, naik 5,6% secara bulanan namun anjlok 19,9% secara tahunan (year-on-year). Penurunan tahunan ini dipicu oleh basis tinggi tahun lalu serta melimpahnya stok domestik, meskipun total impor Januari-November 2025 mencapai 431,68 juta ton, turun 12% dibanding tahun sebelumnya. Pelaku industri memprediksi total impor China tahun 2025 akan berada di kisaran 480 juta ton.
Sementara itu, impor batu bara Vietnam pada November menyentuh level terendah dalam tiga bulan sebesar 3,82 juta ton, turun 4,75% secara tahunan. Indonesia masih menjadi pemasok utama dengan 1,57 juta ton, namun volume ini anjlok 33,54% dibandingkan tahun lalu. Secara kumulatif, impor batu bara Vietnam selama sebelas bulan pertama mencapai 59,42 juta ton dengan nilai total US$6,05 miliar.
India Permintaan Lesu dan Lonjakan Biomassa
India mencatatkan penurunan impor batu bara pada Oktober ke level terendah dalam tiga tahun untuk bulan tersebut, yakni 19,58 juta ton (turun 0,82% YoY). Penurunan ini disebabkan oleh melambatnya aktivitas industri, cuaca basah yang berkepanjangan, serta pasokan domestik yang memadai. Plant Load Factor (PLF) pembangkit termal India bahkan merosot ke 57,5%, terendah dalam empat tahun.
Di sisi lain, India berhasil meningkatkan penggunaan biomassa (co-firing) di pembangkit batu bara hingga lebih dari empat kali lipat mencapai 1,62 juta ton pada tahun fiskal April 2024-Maret 2025. Langkah ini diklaim berhasil mengurangi emisi CO2 sekitar 4 juta ton.