Menyingkap Sejarah Bumi

Geodiversitas Ciletuh-Palabuhanratu merupakan hasil dari proses geodinamika yang sangat kompleks, terutama berkaitan dengan zona subduksi aktif antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia yang terus berkonvergensi dengan laju rata-rata 4 mm per tahun. Secara ilmiah, kawasan ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga zona geologi utama yang mencerminkan sejarah evolusi kerak bumi di bagian barat Jawa.

Zona Subduksi Purba dan Kompleks Batuan Terangkat

Kawasan Ciletuh adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana batuan dari palung subduksi purba dapat diamati langsung di permukaan tanah. Bukti aktivitas subduksi yang terjadi pada zaman Kapur (Cretaceous), sekitar 145 hingga 66 juta tahun yang lalu, terekam dalam bentuk formasi batuan yang semula berada di kedalaman samudera namun kemudian terangkat ke permukaan melalui mekanisme tektonik yang intens.

Kompleks batuan ini dikenal sebagai kompleks mélange, yang merupakan campuran heterogen dari fragmen batuan berbagai ukuran dan jenis yang terperangkap dalam matriks batuan yang terdeformasi kuat. Batuan yang ditemukan di sini meliputi:

  1. Ofiolit: Fragmen dari kerak samudera dan mantel bumi bagian atas, yang memberikan petunjuk mengenai komposisi litosfer di bawah samudera purba.
  2. Batuan Metamorf: Batuan yang mengalami perubahan fisik dan kimia akibat tekanan dan suhu ekstrem di zona subduksi, seperti sekis hijau dan sekis biru.
  3. Sedimen Laut Dalam: Lapisan batuan yang terbentuk dari endapan di dasar palung samudera yang sangat dalam.

Keberadaan batuan ini menjadi alasan utama mengapa Ciletuh disebut sebagai “fosil tektonik” yang menyediakan laboratorium alam bagi para ahli geologi internasional untuk mempelajari mekanisme pergerakan lempeng.

Pembentukan Dataran Tinggi Jampang dan Amfiteater Ciletuh

Memasuki periode Oligosen hingga Miosen Awal (sekitar 23 hingga 15 juta tahun yang lalu), kawasan ini mengalami fase pengangkatan yang signifikan, membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai Dataran Tinggi Jampang (Jampang Plateau). Proses ini melibatkan aktivitas magmatik busur kepulauan yang menghasilkan batuan vulkanik masif.

Salah satu fitur geomorfologi yang paling menakjubkan di CPUGG adalah Amfiteater Ciletuh. Struktur ini merupakan amfiteater alam berbentuk tapal kuda terbesar di Indonesia, yang terbentuk akibat proses keruntuhan gravitasi (gravitational collapse) dari sebagian Formasi Jampang selama periode Miosen-Pliosen (sekitar 5 hingga 8 juta tahun lalu). Keruntuhan masif ini tidak hanya menciptakan lanskap lembah yang megah tetapi juga memicu terbentuknya sistem hidrologi yang kaya, yang kini termanifestasi dalam rangkaian air terjun spektakuler yang mengalir dari dinding-dinding tebing amfiteater tersebut.

Pergeseran Magmatik dan Manifestasi Geotermal

Aktivitas geologi di CPUGG terus berkembang hingga masa Pleistosen (2,5 juta tahun lalu hingga saat ini). Pusat aktivitas vulkanik mulai bergeser ke arah utara, yang kemudian membentuk zona magmatik baru. Dampak dari pergeseran ini adalah munculnya berbagai manifestasi panas bumi di wilayah utara geopark, khususnya di daerah Cisolok.

Geyser Cisolok adalah fitur geotermal yang sangat langka dan menjadi satu-satunya di Indonesia di mana semburan air panas terjadi secara alami melalui rekahan batuan di dasar sungai, bukan melalui sumur bor atau aktivitas uap belerang vulkanik biasa. Selain geyser, wilayah utara juga kaya akan sumber air panas dan potensi energi geotermal yang dapat dikembangkan untuk masa depan.

Komponen GeologiPeriode WaktuLokasi/Situs TerkaitSignifikansi Ilmiah
Subduksi Kapur145 – 66 Juta TahunCiletuh (Mélange)Batuan permukaan tertua di Jawa Barat
Pengangkatan Jampang23 – 15 Juta TahunDataran Tinggi JampangPembentukan daratan pertama di Jabar
Kolaps Amfiteater8 – 5 Juta TahunLembah CiletuhAmfiteater alam tapal kuda terbesar di RI
Aktivitas Pleistosen2,5 Juta Thn – KiniCisolokGeyser unik dan sumber daya geotermal

Leave a Comment