Paleontologi dan Keanekaragaman Hayati

Paleontologi Jampang: Jejak Hiu Purba Megalodon

Salah satu temuan ilmiah paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir di wilayah CPUGG adalah keberadaan situs fosil Megalodon di Desa Gunung Sungging, Kecamatan Surade. Penemuan ini memperluas cakupan narasi geologi geopark dari sekadar “tanah pertama” menjadi saksi bisu ekosistem laut purba yang sangat produktif jutaan tahun yang lalu.

Situs Fosil Gunung Sungging

Para peneliti dari Museum Geologi Bandung dan ITB menemukan bahwa wilayah Jampang yang sekarang berupa daratan dan perbukitan, pada masa Miosen hingga Pliosen merupakan hamparan lautan luas. Di dalam lapisan tanah Desa Gunung Sungging, ditemukan ribuan fragmen fosil yang meliputi:

  • Gigi Megalodon (Otodus megalodon): Predator laut terbesar dalam sejarah bumi, dengan ukuran gigi fosil yang ditemukan berkisar antara 1 cm hingga 15 cm.
  • Tulang Paus Purba (Balaenoptera): Fragmen rahang, tulang belakang, dan tengkorak paus yang diyakini merupakan salah satu mangsa utama Megalodon.
  • Fosil Moluska: Berbagai jenis kerang laut purba yang membantu penentuan usia lapisan tanah.

Penemuan ini telah mendorong pemerintah untuk merencanakan pembangunan “Museum Site Taman Megalodon” sebagai sarana edukasi dan konservasi fosil di lokasi aslinya. Signifikansi penemuan di Surade ini sangat tinggi karena ukurannya yang lebih besar dan jumlahnya yang lebih banyak dibandingkan temuan serupa di lokasi lain di Indonesia.

Estimasi Data Megalodon SuradeNilai/Ukuran
Panjang Tubuh Individu10.36 – 21.56 meter
Berat Rata-rata46.73 ton
Ukuran Gigi Maksimum~15 cm
Usia GeologiJutaan Tahun (Miosen-Pliosen)

Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem

CPUGG bukan hanya tentang batuan dan fosil; ia adalah rumah bagi biodiversitas yang kaya, yang keberlangsungannya sangat bergantung pada formasi geologi di bawahnya. Jasa ekosistem yang diberikan oleh kawasan ini meliputi penyediaan air, pengaturan iklim mikro, hingga fungsi perlindungan pantai.

Konservasi Penyu Hijau di Pangumbahan

Salah satu pilar penting keanekaragaman hayati di CPUGG adalah Pantai Pangumbahan yang menjadi habitat peneluran penyu hijau (Chelonia mydas). Kawasan ini dikelola secara ketat untuk melindungi populasi penyu yang terancam punah. Aktivitas harian meliputi pemantauan pendaratan induk penyu pada malam hari, penyelamatan telur dari predator atau pencurian, serta pelepasan tukik (anak penyu) ke laut lepas secara rutin. UNESCO memberikan apresiasi tinggi pada komitmen konservasi ini karena menunjukkan integrasi yang kuat antara manajemen geopark dengan perlindungan spesies kritis.

Ekosistem Mangrove dan Suaka Margasatwa Cikepuh

Kawasan pesisir Ciletuh memiliki hutan mangrove seluas kurang lebih lima hektar yang menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Berdasarkan penelitian, ditemukan sekitar 18 spesies mangrove dari 12 famili, dengan dominasi spesies dari famili Avicenniaceae. Mangrove ini berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan dan penahan abrasi alami.

Di sisi daratan, Suaka Margasatwa Cikepuh melindungi satwa-satwa langka seperti elang, lutung, dan berbagai mamalia lainnya. Terdapat rencana strategis dari BKSDA untuk memperkenalkan kembali spesies besar seperti banteng dan badak ke kawasan ini guna memulihkan fungsi ekologi hutan pantai yang asli. Selain itu, flora langka seperti kayu sonokeling (Dalbergia latifolia) juga menjadi fokus perlindungan di zona ini.

Analisis Kemauan Membayar (WTP) untuk Konservasi

Sebuah studi mengenai nilai ekonomi ekosistem di CPUGG menunjukkan bahwa 68,8% wisatawan menyatakan bersedia untuk membayar biaya konservasi tambahan guna melindungi keanekaragaman hayati kawasan. Nilai kemauan membayar (WTP) ini bervariasi antara Rp3.000 hingga Rp25.000, yang mencerminkan kesadaran publik yang tinggi akan pentingnya kelestarian lingkungan di geopark. Temuan ini memberikan dasar bagi pengelola geopark untuk merancang sistem retribusi yang lebih berorientasi pada keberlanjutan lingkungan daripada sekadar keuntungan komersial.

Leave a Comment