Bloomberg — 06 Januari 2026 — Harga tembaga dunia mencetak rekor tertinggi baru dalam sejarah pada perdagangan Selasa (6/1). Kontrak berjangka tiga bulan di London Metal Exchange (LME) melonjak 3,1% menembus level psikologis baru di angka US$ 13.387 per ton. Kenaikan ini menandai reli lebih dari 20% sejak akhir November 2025, didorong oleh kekhawatiran pasokan global yang semakin ketat.
Pemicu utama lonjakan ini adalah kebijakan proteksionisme Presiden AS Donald Trump. Spekulasi mengenai penerapan tarif impor logam olahan (dijadwalkan diputuskan Juni 2026 dengan potensi tarif 15-30%) telah memicu kepanikan pasar, menyebabkan arus besar-besaran stok tembaga masuk ke gudang-gudang di Amerika Serikat. Data menunjukkan stok di gudang Comex (AS) membengkak hingga lebih dari 500.000 short tons, sementara stok di gudang LME (global) menyusut drastis hingga hampir setengahnya dalam setahun terakhir.
Li Xuezhi, Kepala Riset Chaos Ternary Futures, menyebut situasi ini menghilangkan “bantalan” (buffer) stok dunia karena persediaan kini “terkunci” di AS, memaksa pembeli global berebut pasokan yang tersisa. Indikator pasar menunjukkan kondisi backwardation (harga spot lebih mahal dari futures), menandakan tekanan pasokan jangka pendek yang akut.
Selain faktor AS, fundamental pasokan juga terganggu oleh serangkaian kecelakaan tambang dan rendahnya processing fees (biaya pengolahan) yang menekan smelter global. Di sisi lain, Goldman Sachs melaporkan bahwa permintaan dari China—konsumen terbesar dunia—tetap kokoh dan tidak menunjukkan penurunan order meskipun harga melambung tinggi.