Nikel Meledak >10%, Reli Logam Dipacu Pembelian China dan Risiko Pasokan Indonesia

Bloomberg — 07 Januari 2026 — Harga nikel melonjak lebih dari 10% di London Metal Exchange (LME), mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari tiga tahun, seiring derasnya minat investor China yang memicu reli luas pasar logam global. Nikel sempat menyentuh US$18.785/ton, memperpanjang reli hingga hampir 30% sejak pertengahan Desember.

Reli ini terjadi meski pasar nikel masih oversupply, dengan sentimen ditopang risiko gangguan produksi di Indonesia—pemasok utama global—serta arus investasi besar ke pasar logam domestik China. Pergerakan harga menguat saat jam Asia dan kembali reli ketika sesi malam dibuka di Shanghai Futures Exchange, menandakan peran signifikan pelaku China.

Secara lebih luas, LMEX Index—yang melacak enam logam utama—melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2022. Tembaga telah naik >20% sejak akhir November dan menembus US$13.000/ton untuk pertama kalinya, sementara aluminium mencapai level tertinggi sejak April 2022. Kontrak tembaga tiga bulan di LME sempat menyentuh US$13.387,5/ton.

Lonjakan tembaga dipicu ekspektasi pengetatan pasokan akibat arus persediaan yang tersedot ke AS, menyusul potensi tarif impor yang kembali dipertimbangkan pemerintahan Donald Trump. Stok tembaga di gudang Comex kini >500 ribu short tons setelah 44 hari arus masuk bersih, sementara persediaan LME menyusut hampir setengah dalam setahun.

Menutup perdagangan London, nikel naik 9% ke US$18.524/ton, tembaga menguat 1,9% ke US$13.238/ton, dan timah melonjak 4,9%. Awal 2026 menandai fase risk-on di logam dasar, dengan China sebagai katalis utama dan Indonesia tetap menjadi variabel kunci di sisi pasokan.

Leave a Comment