Update Pasar: Batu Bara “Tarik Tambang” Antara Pengetatan Suplai RI vs Pelemahan Permintaan India

InvestorID/CNBC — 08 Januari 2026 — Pasar batu bara global tengah mengalami volatilitas tinggi di pekan pertama 2026. Setelah sempat melonjak tajam pada awal pekan merespons kebijakan produksi Indonesia, harga kini terpantau mengalami koreksi teknikal tipis pada perdagangan Kamis (8/1).

Berikut adalah ringkasan dinamika pasar terkini:
📉 DATA PASAR TERBARU (Per 8 Jan 2026)
Berdasarkan data futures ICE Newcastle & Rotterdam:

  • ICE Newcastle (Jan ’26): Terkoreksi tipis -0,33% ke level US$ 106,90/ton. (Turun dari level US$ 107,25 yang sempat dicapai awal pekan).
  • ICE Newcastle (Feb ’26): Turun -0,42% ke US$ 106,55/ton.
  • ICE Rotterdam (Eropa): Masih hijau tipis (+0,05%) di level US$ 98,70/ton.

🇮🇩 SENTIMEN BULLISH: Efek “Rem Tangan” RKAB Indonesia
Harga sempat melesat ke atas US$ 107 awal pekan ini karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian suplai dari Indonesia:

  • Aturan Masa Transisi: ESDM mewajibkan revisi RKAB 2026. Selama masa transisi (Januari-Maret 2026), produksi dibatasi maksimal 25% dari target tahunan.
  • Pengetatan Produksi: Kebijakan ini dianggap sebagai sinyal bahwa suplai dari eksportir terbesar dunia ini tidak akan “selonggar” tahun-tahun sebelumnya, demi menjaga stabilitas harga.

🇨🇳 FAKTOR CHINA (Permintaan Naik)
China menjadi penopang harga saat ini. Aktivitas destocking di pelabuhan utara China membuat stok menipis, memicu pembelian baru untuk kebutuhan musim dingin. Kesenjangan pasokan ini membuka ruang impor yang lebih besar.

🇮🇳 SENTIMEN BEARISH: India & Pasar Laut Lesu
Namun, kenaikan harga tertahan oleh sentimen negatif dari data perdagangan global:

  • India Ngerem: Impor batu bara India (konsumen terbesar kedua) dilaporkan menurun, menekan permintaan seaborne.
  • Volume Global Turun: Data pelacakan kapal menunjukkan pemuatan batu bara laut global turun 4,3% (yoy), dengan ekspor Indonesia terkoreksi 9,6% secara tahunan pada periode Jan-Sept 2025.
  • Koreksi Hari Ini: Penurunan harga hari ini kemungkinan besar adalah respons pasar terhadap data impor India yang lemah tersebut, menyeimbangkan euforia sesaat dari isu RKAB Indonesia.

Pasar sedang mencari keseimbangan baru. Di satu sisi, suplai fisik seret karena pembatasan kuota produksi Indonesia di Q1-2026. Di sisi lain, permintaan fundamental dari India dan pasar non-China sedang lemah.

Bagi pelaku pasar, level US$ 106-107 menjadi area pertarungan support yang krusial minggu ini.

Leave a Comment