Reuters — 22 Januari 2026 — Pasar ekspor batu bara termal global mulai menunjukkan tanda kontraksi struktural setelah volume pengiriman dunia turun 33 juta ton (-3%) pada 2025 menjadi sekitar 936 juta ton, terendah sejak 2022. Penurunan ini dipicu melemahnya impor di pasar-pasar utama, menandai kontraksi tahunan pertama sejak pandemi 2020, menurut data Kpler.
Tiga importir terbesar—China, India, dan Jepang—yang selama ini menyerap sekitar 60% impor global, memangkas pembelian secara serempak. Total impor ketiganya pada 2025 turun 49 juta ton (-8% yoy) menjadi sekitar 565 juta ton. China tetap terbesar dengan 308 juta ton, disusul India 157 juta ton dan Jepang 100 juta ton.
Pelemahan ini mencerminkan tren jangka menengah: ekspansi energi terbarukan dan dukungan pada produksi domestik di China dan India, serta kebangkitan kembali nuklir di Jepang, menggerus ketergantungan pada batu bara. Sejumlah pasar mapan lain—seperti Filipina dan Taiwan—juga menunjukkan penurunan porsi batu bara dalam bauran listrik.
Meski demikian, titik terang masih muncul di pasar sekunder. Sepuluh importir terbesar berikutnya justru menambah pembelian gabungan 13 juta ton pada 2025. Kenaikan terbesar dicatat Bangladesh (+4,9 juta ton ke rekor ~17 juta ton), Turki (+4,5 juta ton ke 32 juta ton), dan Korea Selatan (+3,65 juta ton ke ~76 juta ton). Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Belanda juga mencatat kenaikan, rata-rata ~1,3 juta ton.
Pendorong utama di pasar-pasar ini adalah kenaikan porsi batu bara dalam pembangkit listrik. Di Bangladesh, kontribusi batu bara menembus >40% untuk pertama kalinya pada 2025. Di Korea Selatan, porsinya mencapai tertinggi empat tahun akibat penurunan output nuklir domestik. Di Malaysia, Vietnam, dan Filipina, pangsa batu bara tetap >40%, sementara di Turki masih sekitar 34%—terbesar dalam bauran listrik nasional.