Mining — 23 Januari 2026 – Ambisi agresif Presiden AS Donald Trump untuk menguasai Greenland dan Kanada saat ini dinilai sebagai respons panik atas “blunder” kebijakan Amerika di masa lalu. Sebuah analisis terbaru mengungkap bahwa China kini memegang “tombol pemati” (kill switch) atas industri pertahanan dan teknologi tinggi AS karena Washington secara sukarela menyerahkan dominasi unsur tanah jarang (rare earth) puluhan tahun silam.
Visi dominasi ini telah dicanangkan pemimpin China, Deng Xiaoping, sejak 1992. Saat meninjau tambang di Baotou, Inner Mongolia, ia terkenal berujar: “Timur Tengah memiliki minyak, China memiliki tanah jarang”. Keseriusan Beijing terlihat dengan masuknya sektor ini sebagai aset strategis dalam dokumen perencanaan nasional lima tahunan sejak periode 1981-1985.
Sebaliknya, AS yang merupakan produsen utama tanah jarang hingga tahun 1980-an, memilih untuk “membuang” industri ini ke China. Keputusan ini didorong oleh keinginan memangkas biaya tenaga kerja dan menghindari standar lingkungan yang ketat. Puncaknya pada 1980, regulasi ketat dari Komisi Regulasi Nuklir (NRC) membuat pengolahan domestik menjadi terlalu mahal karena limbah sampingannya dikategorikan sebagai “material sumber” nuklir.
Kini, 17 elemen logam ini menjadi tulang punggung tak terlihat bagi dunia modern, mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, turbin angin, hingga alutsista canggih seperti jet tempur F-35 dan sistem radar. Disebut “jarang” bukan karena jumlahnya sedikit, melainkan karena sangat sulit dan mahal untuk diekstraksi dalam konsentrasi murni secara ekonomis—sebuah “pekerjaan kotor” yang kini hampir sepenuhnya dikendalikan oleh Beijing.