Tembaga Ikut “Terbang” ke Rekor Tertinggi (ATH) US$ 14.125, Abaikan Lemahnya Permintaan China

Reuters — 29 Januari 2026 – Gelombang “panic buying” investor terhadap aset fisik kini menjalar ke logam industri. Harga Tembaga (Copper) hari ini resmi mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High), menyusul reli emas dan perak, didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik pasca ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran dan pelemahan Dolar AS.

Di bursa London Metal Exchange (LME), harga tembaga acuan sempat melonjak tajam 7,94% menyentuh level puncak US$ 14.125 per ton, sebelum sedikit terkoreksi ke US$ 13.913,50. Kenaikan lebih agresif terjadi di Shanghai Futures Exchange (SHFE), di mana kontrak teraktif ditutup melesat 6,71% ke 109.110 yuan, setelah sempat menyentuh rekor intraday 110.970 yuan (sekitar US$ 15.708) per ton.

Reli ini dinilai sebagai anomali karena terjadi di tengah lemahnya permintaan fisik dari konsumen terbesar dunia, China. Indikator premi tembaga Yangshan—barometer permintaan impor China—justru anjlok ke level US$ 20 per ton, terendah sejak Juli 2024, menandakan bahwa kenaikan harga saat ini murni didorong oleh sentimen makro dan spekulasi investor yang mengalihkan keuntungan (profit taking) dari emas ke logam dasar. Tren positif ini turut mengerek harga logam lainnya, di mana Aluminium, Seng, Nikel, Timbal, dan Timah kompak bergerak di zona hijau.

Leave a Comment