
Inalum Desak Moratorium Smelter Aluminium Baru Demi Cegah ‘Oversupply’ ala Nikel & Krisis Cadangan
Reuters – 1 April 2026 – PT Inalum, perusahaan aluminium pelat merah Indonesia, mendesak pemerintah untuk segera memberlakukan moratorium (penghentian sementara) pembangunan kilang alumina dan smelter aluminium baru. Berbicara di hadapan parlemen pada hari Selasa, CEO Inalum Melati Sarnita memperingatkan bahwa ekspansi sektor yang tidak terkendali berisiko mengulangi krisis kelebihan pasokan (oversupply) dan masalah lingkungan yang saat ini melanda industri nikel, yang dapat menekan harga global di tengah ketidakpastian permintaan.
Inalum memproyeksikan bahwa jika seluruh proyek yang direncanakan beroperasi, kapasitas produksi alumina Indonesia akan melonjak tajam dari ~9 juta ton menjadi 29,8 juta ton. Secara bersamaan, kapasitas aluminium primer juga akan meroket dari 1,13 juta ton menjadi 14,9 juta ton. Ekspansi industri yang masif ini akan mengerek permintaan bauksit mentah dari 36 juta ton saat ini menjadi 94 juta ton per tahun. Melati memperingatkan bahwa tingkat ekstraksi yang agresif ini berpotensi menguras habis cadangan bauksit terbukti Indonesia hanya dalam waktu 10 tahun, yang secara fundamental mengancam kelayakan umur ekonomis smelter nasional yang didesain untuk beroperasi selama 30 tahun.

