
Keluhan Smelter Soal Kenaikan HPM Nikel: Operasional Kian Berat Dihimpit Biaya dan Oversupply
17 April, 2026 – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyatakan keberatan keras terhadap revisi Harga Patokan Mineral (HPM), memperingatkan bahwa lonjakan harga bijih domestik yang tiba-tiba ini melumpuhkan operasional smelter yang sudah tertekan oleh kondisi global.
Menurut Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah, kenaikan HPM sangat mengancam margin hilirisasi. Biaya produksi smelter RKEF diproyeksikan melonjak ~US$600/ton. Smelter HPAL menghadapi pukulan yang lebih telak: biaya produksi MHP akan melonjak US$2.400–US$2.600/ton. Ini memperparah krisis sulfur imbas konflik Timur Tengah, di mana harga sulfur telah meroket dari <US$100/ton menjadi US$250/ton, menambah beban biaya hingga US$4.000/ton pada operasional HPAL.
Data Shanghai Metals Market (SMM) mengonfirmasi kekhawatiran ini, memprediksi HPM untuk bijih nikel kadar 1,2% akan meroket 151% dari US$16–US$17/wmt menjadi US$40,18/wmt, mendorong harga CIF naik hingga US$48,18/wmt. Seorang pelaku industri anonim mengonfirmasi kekacauan ini, menyebut pasar langsung crash dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melonjak 3x lipat dalam semalam. Basis royalti dilaporkan melompat dari US$23 menjadi US$60, menciptakan selisih royalti US$6 yang mematikan banyak penambang dadakan.
Meski diprotes, Kementerian ESDM tetap teguh. Dirjen Minerba Tri Winarno menegaskan revisi mutlak diperlukan karena bijih domestik selama ini dinilai terlalu murah dan gagal mencerminkan harga premium pasar jika dibandingkan dengan bijih impor dari Filipina—yang memasok 15,3 juta ton ke Indonesia sepanjang 2025.
Di sisi lain, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat bahwa meskipun HPM membatasi pasokan, pasar global, khususnya China, masih mengalami oversupply yang parah. Di tengah turbulensi ini, harga Nikel LME menunjukkan sedikit volatilitas dan ditutup pada level US$18.133/ton pada hari Kamis.


