Kehidupan di wilayah tektonik aktif seperti Jawa bagian barat menuntut kesadaran akan berbagai bahaya geologis.
1 Ancaman Sesar Aktif Baribis
Riset seismologi terkini telah mengubah pemahaman tentang risiko gempa di Jakarta. Sebelumnya dianggap relatif aman karena jauh dari zona megathrust selatan Jawa, Jakarta kini diketahui dilintasi atau berada sangat dekat dengan Sesar Baribis yang aktif.
- Jalur Sesar: Sesar ini membentang dari wilayah Subang, Purwakarta, melintasi selatan Jakarta (potensial), hingga ke Tangerang. Data GPS dan seismisitas mikro menunjukkan adanya akumulasi regangan (strain) yang mengindikasikan sesar ini “terkunci” dan sedang menabung energi.
- Implikasi: Gempa yang bersumber dari sesar darat dangkal di dekat kota (near-field earthquake) memiliki karakteristik guncangan frekuensi tinggi yang sangat merusak bangunan, meskipun magnitudo-nya mungkin tidak sebesar gempa megathrust. Kode bangunan (building code) di Jakarta perlu diperketat untuk mengantisipasi percepatan tanah (PGA) yang lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.
2 Bahaya Vulkanik: Pelajaran dari Sejarah
Gunung Salak dan Gede-Pangrango, yang menjadi latar pemandangan Jakarta, adalah gunung api aktif.
- Letusan 1699: Catatan sejarah kolonial mendokumentasikan letusan Gunung Salak pada tahun 1699. Letusan ini tidak hanya melemparkan abu vulkanik, tetapi juga memicu banjir lahar dan lumpur hebat yang mengalir melalui Sungai Ciliwung hingga ke Batavia (Jakarta Lama). Lumpur ini mendangkalkan kanal-kanal kota dan sungai, merusak sistem sanitasi kota, dan memicu wabah penyakit malaria dan kolera yang mematikan.
- Risiko Modern: Jika peristiwa serupa terjadi saat ini, dampaknya akan jauh lebih katastrofik. Bantaran Sungai Ciliwung kini dipadati permukiman. Banjir lahar hujan (banjir material vulkanik yang terbawa air hujan) dapat menghancurkan jembatan, instalasi pengolahan air, dan bendungan di sepanjang aliran sungai dari Bogor hingga Jakarta.
3 Bencana Hidrometeorologi-Geologi
Banjir rob di Jakarta Utara adalah contoh klasik bencana hibrida.
- Kombinasi Faktor: Penurunan tanah (subsidence) akibat ekstraksi air tanah + Kenaikan muka air laut global (sea level rise) akibat perubahan iklim + Fenomena pasang surut astronomi = Banjir Rob Permanen.
- Dampak Sosial: Di Muara Baru dan sekitarnya, banjir rob bukan lagi peristiwa tahunan, melainkan bulanan atau bahkan harian. Air laut yang merendam jalan dan rumah bersifat korosif, merusak fondasi bangunan, kendaraan, dan infrastruktur listrik.