QUALITY CONTROL & STOCKPILE MANAGEMENT
QUALITY CONTROL & STOCKPILE MANAGEMENT QUALITY CONTROL Adalah management pengendalian kualitas batubara dari mulai data geology sampai batubara tersebut dikirim kepada end user. GEOLOGY – MINE PLANNING – PRODUCTION – BARGING – PENGAPALAN STOCKPILE MANAGEMENT Adalah management pengelolaan penyimpanan batubara produksi di stockpile yang mempertimbangkan faktor-faktor kualitas maupun karakteristik batubara. QUALITY CONTROL Quality Control di suatu perusahaan tambang merupakan tanggung jawab semua bagian dari mulai Geology sampai Shipping. Tanpa keterlibatan semua bagian tersebut, tidak akan pernah tercapai penyelenggaraan pengendalian mutu atau quality control yang baik. STORAGE MANAGEMENT Disain Stockpile Disain dari suatu stockpile ditentukan oleh beberapa hal berikut ini: Kapasitas Penyimpanan Batubara Jumlah Produk Yang Dipisahkan Fasilitas Penumpukan dan Pemuatan…
Batubara Sebagai Sedimen
PROSES PEMBENTUKAN BATUBARA Batubara merupakan sedimen organik, lebih tepatnya merupakan batuan organik, terdiri dari kandungan bermacam-macam pseudomineral. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dan terkumpul dalam suatu daerah dengan kondisi banyak air, biasa disebut rawa-rawa. Kondisi tersebut yang menghambat penguraian menyeluruh dari sisa-sisa tumbuhan yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi batubara. Selain tumbuhan yang ditemukan bermacam-macam, tingkat kematangan juga bervariasi, karena dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondisi lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingkat keasaman, dan kehadiran mikroba. Pada umumnya sisa-sisa tanaman tersebut dapat berupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, serta tumbuhan yang biasa hidup di rawa-rawa. Ditemukannya jenis flora yang terdapat pada sebuah lapisan batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam…
Kemantapan Lereng
Kemantapan lereng di tambang terbuka seringnya dievaluasi dengan metoda keseimbangan batas. Ada empat parameter yang perlu diperhatikan dalam perancangan kemantapan lereng di tambang terbuka, yaitu rencana penambangan, kondisi struktur geologi, sifat-sifat fisik dan mekanik material pembentuk lereng dan tekanan air tanah. Dari ke-empat parameter tersebut, struktur geologi merupakan parameter yang paling dominan dalam mengontrol kemantapan lereng batuan baik dari bentuk maupun arah longsoran lereng. Dengan menggunakan metoda keseimbangan batas, kemantapan lereng dapat dievaluasi dengan metoda analitik dan empirik. Walaupun metoda analitik sudah banyak diterima oleh kalangan akademik dan praktisi, metoda ini masih mempunyai suatu kekurangan, karena analitik biasanya menggunakan beberapa asumsi seperti; • massa batuan dianggap homogen, • isotropik • …
TAHAPAN EKSPLORASI
TAHAPAN EKSPLORASI BAKU EROPA I. Studi Pendahuluan dan Rancangan Eksplorasi 1. Studi Pendahuluan : review literatur, geologi regional, studi citra lendsat, interpretasi foto udara, synthesa-synthesa geologi dan 2. Rancangan eksplorasi menyangkut pengajuan Eksplorasi Model sebagai hipotesa kerja, penentuan petunjuk-petunjuk geologi yang akan digunakan, penentuan strategi dan pentahapan dan pemilihan metoda eksplorasi. II. Tahapan Tinjau/Strategis 3. Penilaian daerah berdasarkan pustaka dan data yang ada. 4. Tinjauan Daerah : – Survey dari udara; survey dan analisa foto udara, survey dan analisa aeromagnetic. – Survey darat sepintas-lalu; pelintasan-pelintasan yang menyeluruh seluruh daerah, dengan metoda geologi atau metoda non-geologi. Prospeksi batuan dan/atau prospeksi sungai dsb (peta sekala 1 : 100.000 – 200.000). tahapan ini…
Mechanical Sampling Batubara
Syarat Dasar Mechanical Sampling Falling Stream Primary Sampler Falling Stream Primary Sampler Berikut adalah prinsip dan perhitungan untuk Falling Stream Primary Sampler. Syarat dan Prinsip Kerja Cutter Rumus Berat Increment Minimum Berat increment minimum (m) dapat dihitung menggunakan rumus berikut: m=3.6⋅VbC⋅a Keterangan Rumus: Contoh Tipe Sampler Berikut adalah beberapa contoh tipe Falling Stream Primary Sampler: Cross Belt Primary Sampler Cross Belt Primary Sampler Perbandingan Mechanical Primary Samplers Fitur Falling Stream Sampler Cross Belt Sampler Berat Increment Terkumpul lebih banyak. Terkumpul lebih sedikit. Verifikasi Ketepatan Mudah untuk mencapai dan memverifikasi ketepatan sampling. Sedikit lebih sulit untuk mencapai dan memverifikasi ketepatan sampling. Bias Testing untuk Mechanical Sampler Bias Testing untuk Mechanical Sampler…
5 Hal Paling Berdampak dalam UU No. 3 Tahun 2020
Indonesia berdiri di atas fondasi kekayaan mineral dan batubara yang masif—sebuah “harta karun” tidak terbarukan yang menjadi mesin utama penggerak PDB nasional. Namun, sebagai komoditas ekstraktif yang bersifat finite (terbatas), pengelolaannya menuntut ketajaman regulasi agar tidak sekadar menjadi objek eksploitasi sesaat. Kehadiran Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 hadir sebagai rujukan baru yang merombak total arsitektur perizinan dan tata kelola tambang kita. Bagi para pelaku industri dan pemangku kepentingan, memahami aturan main ini adalah kunci untuk membaca arah kebijakan investasi jangka panjang di tengah lanskap hukum yang kian disiplin. Akhir dari Era Otonomi Tambang? Perubahan paling fundamental dalam regulasi ini adalah penarikan mandat pengelolaan Mineral dan Batubara (Minerba) dari Pemerintah Daerah…
Penyusunan RIPPM: Dasar Hukum Kuat agar Tambang Membawa Manfaat Nyata
Berikut adalah tulisan komprehensif mengenai landasan hukum dan hierarki penyusunan Rencana Induk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM) pada sektor pertambangan, yang dikembangkan berdasarkan dokumen dan sumber hukum yang berlaku: Penyusunan RIPPM: Dasar Hukum Kuat agar Tambang Membawa Manfaat Nyata Pemerintah menaruh perhatian besar pada aspek Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) agar operasional tambang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kemandirian masyarakat lokal, bukan sekadar janji. Oleh karena itu, penyusunan RIPPM memiliki dasar hukum yang sangat kuat dan berjenjang. Berikut adalah hierarki peraturan yang wajib dijadikan landasan hukum dalam dokumen RIPPM, mulai dari tingkat undang-undang hingga pedoman teknis di daerah: Tingkat Undang-Undang (UU) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 (Perubahan atas UU No.…
Peta-peta kuno Sumatera
Peta-peta kuno Sumatera Sumatera, abad ke-16 Sumatera, tahun 1522 Sumatera, tahun 1565 Sumatera, tahun 1588 Sumatera, tahun 1598 Sumatera, tahun 1601 Sumatera, tahun 1616 Sumatera, tahun 1620 Sumatera, tahun 1707 Sumatera, tahun 1725 Sumatera, tahun 1760 Peta Sumatera bad ke-16 ————————————- Peta Sumatera, tahun 1522 —————————– Peta Sumatera, tahun 1565———————————— Peta Sumatera, tahun 1588 ——————————————- Peta Sumatera, tahun 1598 —————————————- Peta Sumatera, tahun 1601 ——————————— Peta Sumatera, tahun 1616 ———————————- Peta Sumatera timur, tahun 1620 ——————————— Peta Sumatera, tahun 1707 ————————————— Peta Sumatera, tahun 1725 ————————————– Peta Sumatera, tahun 1760
Peta-peta kuno Bali
Ada peta 1598, 1618, 1660, 1683, 1720, 1750, 1800-an, 1856, 1900. Bali, 1598 ———————— Bali, 1618 ———————— Bali, 1660 ———————— Bali, 1683 ———————— Bali dan Lombok karya Gerard van Keulen (1720-1726) ———————— Bali, 1750 ———————— Bali, 1800an ———————— Bali, 1856———————— Kerajaan di Bali, 1900
Peta-peta kuno Jawa
Ada peta 1570, 1587, 1612, 1650, 1652, 1660, 1690, awal abad ke-18, 1706, 1778. Java, 1570 ————————– Jawa, 1587 ————————— Jawa, 1612 —————————– Jawa, 1650 —————————- Jawa, 1652 —————————– Jawa timur, Bali, Lombok, Madura, tahun 1660 —————————— Jawa 1690 ——————————– Jawa, awal abad ke-18 —————————– Jawa, 1706 —————————– Jawa, 1778