Bloomberg — 08 Januari 2026 — Pasar logam China memasuki fase euforia spekulatif, ditandai lonjakan nilai transaksi lebih dari 260% secara tahunan dan open interest menembus rekor pada enam logam utama yang diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE). Investor dan dana besar membanjiri komoditas seperti tembaga, nikel, aluminium, dan litium, bertaruh pada pengetatan pasokan global, permintaan industri yang masih tangguh, serta pelonggaran moneter di China dan AS.
Total nilai transaksi kontrak enam logam dasar SHFE, ditambah emas dan perak, mencapai 37,1 triliun yuan (lebih dari US$5 triliun) pada Desember 2025. Berdasarkan volume, 29 Desember menjadi hari tersibuk tembaga dalam lebih dari satu dekade. Open interest gabungan melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, dengan tembaga dan aluminium menyumbang porsi terbesar.
Reli harga turut dipacu arus macro allocation ke komoditas, dolar AS yang lebih lemah, serta meningkatnya risiko geopolitik. Nikel—material penting untuk baja tahan karat dan baterai—naik hampir 6% di SHFE, sementara kontrak aluminium paling aktif ditutup pada level tertinggi sejak 2021. Tembaga bahkan menembus 100.000 yuan/ton, meski pasar domestik menunjukkan sinyal campuran seperti kenaikan stok.
Aktivitas spekulatif juga memanas di Guangzhou Futures Exchange, dengan nilai transaksi ±5,6 triliun yuan pada Desember—enam kali lipat dibanding setahun sebelumnya—termasuk kontrak litium, paladium, platinum, dan silikon. Namun, volatilitas meningkat tajam: kontrak platinum yang baru diluncurkan sudah delapan kali menyentuh batas limit-up/limit-down. Bursa pun membatasi posisi baru dan menaikkan biaya pada litium karbonat setelah reli 35% dalam ~7 minggu, serta menaikkan margin dan batas harian untuk sebagian kontrak perak.
Meski regulator mengimbau investor lebih rasional, reli global masih memberi dukungan. Tembaga mencetak rekor di LME, dan LMEX Index—yang melacak enam logam utama—melonjak ke tertinggi sejak 2022. Dengan latar pelonggaran moneter berkelanjutan dan kehadiran macro funds yang cenderung menahan posisi lebih lama, pelaku pasar menilai arus modal ke logam belum akan cepat keluar dalam 6 bulan ke depan—meski risiko volatilitas kian tinggi.