Divergensi Pasar Batu Bara Kokas Asia: China Defisit Pasokan, Impor India Melonjak ke Level Tertinggi 5 Bulan

SXCoal — 29 Januari 2026 – Pasar batu bara kokas China mengalami defisit pasokan sepanjang tahun 2025, di mana total permintaan tercatat naik 1,92% menjadi 599,09 juta ton, melampaui total pasokan domestik dan impor bersih yang hanya mencapai 596,97 juta ton. Ketimpangan ini dipicu oleh kontraksi pasokan pada semester kedua akibat gangguan operasional tambang yang terdampak kampanye anti-involusi dan inspeksi kelebihan produksi, meskipun produksi domestik washed coking coal sebenarnya tumbuh 1,37% menjadi 479,52 juta ton dengan Shanxi sebagai pemasok utama. Dari sisi impor, China mencatatkan penurunan volume sebesar 2,97% menjadi 118,63 juta ton, dengan pergeseran peta dagang yang signifikan: pasokan dari Mongolia dan Rusia kini mendominasi 78% pangsa pasar, sementara impor dari Australia dan AS anjlok masing-masing sebesar 14,51% dan 72,74%.

Sebaliknya, permintaan impor batu bara kokas India justru sedang memanas. Pada Desember 2025, impor batu bara kokas India melonjak 56,97% (YoY) menyentuh level tertinggi dalam lima bulan di angka 5,69 juta ton, didorong oleh peningkatan produksi baja domestik dan pemberlakuan pembatasan impor kokas metalurgi. Tren ini berlawanan dengan impor batu bara termal India yang justru lesu karena tingginya stok di pembangkit listrik. Secara total, India mengimpor 18,45 juta ton batu bara pada Desember, dengan Indonesia tetap menjadi pemasok terbesar (6,86 juta ton), diikuti oleh lonjakan pasokan dari Australia (+22,04%) dan AS (+67,48%) yang mengisi kebutuhan segmen batu bara kokas.

Leave a Comment