Gagal “Kawin” dengan Glencore, Rio Tinto “All-in” di Tembaga & Cetak Laba US$10 Miliar

Mining/TheAge – 20 Februari 2026 – Rio Tinto melaporkan laba bersih sebesar US25,4 miliar, didorong oleh rekor volume bijih besi serta lonjakan pendapatan dari divisi aluminium dan litium sebesar 29%. Laporan keuangan ini menjadi momen krusial bagi manajemen untuk mempertahankan strategi pertumbuhan organiknya setelah pembicaraan merger senilai US2,54 per saham), melanjutkan tren pembayaran di batas atas selama satu dekade berturut-turut.

Pasca kegagalan merger tersebut, CEO Simon Trott menegaskan bahwa tembaga kini ditempatkan sebagai pusat rencana pertumbuhan perusahaan, dengan 85% dari total anggaran eksplorasi dialokasikan khusus untuk logam merah ini. Strategi agresif ini mulai membuahkan hasil, di mana laba dari sektor tembaga sukses melonjak dua kali lipat menjadi hampir US$7,4 miliar, ditopang oleh ekspansi tambang Oyu Tolgoi di Mongolia dan harga komoditas yang tinggi. Rio Tinto menargetkan pertumbuhan produksi tembaga sebesar 3% setiap tahunnya hingga 2030 guna memenuhi kebutuhan elektrifikasi dan infrastruktur digital. Namun, ketergantungan pada Oyu Tolgoi membawa risiko tersendiri mengingat adanya klaim korupsi dan sengketa pajak yang belum tuntas dengan pemerintah Mongolia.

Di sisi lain, divisi bijih besi masih menjadi ujung tombak profitabilitas perusahaan meski pendapatan dasarnya turun 11% akibat harga realisasi yang melemah di angka US$90 per ton dan pengiriman yang stagnan. Perusahaan terus berinvestasi untuk mempertahankan output di Australia Barat dan telah memulai ekspor dari proyek Simandou di Guinea sejak Desember, dengan target penjualan antara 5 juta hingga 10 juta ton pada tahun 2026.

Leave a Comment