Bloomberg – 6 November 2025 — Harga bijih besi terus melemah, mencatat penurunan enam hari beruntun — tren terpanjang sejak Agustus — seiring melambatnya aktivitas industri baja China yang memasuki musim sepi.
Pada perdagangan Kamis pagi, harga bijih besi sempat turun hingga US$102,65 per ton, atau melemah lebih dari 4% dibanding penutupan Rabu pekan lalu. Kontrak berjangka di Singapura turun tipis 0,1% ke US$103,40 per ton, sementara di Bursa Dalian, kontrak berdenominasi yuan justru naik 0,1%.
Pelemahan terjadi di tengah perlambatan sektor konstruksi China selama musim dingin, diikuti peningkatan aktivitas perawatan pabrik baja. Di sisi lain, stok bijih besi di pelabuhan China meningkat, memperburuk tekanan harga.
Analis Mengtian Jiang dari Horizon Insights menilai pasar sudah “memasuki fase stagnasi” setelah semua sentimen positif dari kesepakatan dagang AS–China terserap. Ia menambahkan, penguatan harga batu bara kokas juga membuat pelaku pasar beralih dari bijih besi ke komoditas energi tersebut.
Sementara itu, di Bursa London (LME), tembaga naik 0,5% ke US$10.753,50 per ton, sedangkan aluminium dan seng masing-masing menguat 0,3%.