Bloomberg — 26 Januari 2026 – Pasar batu bara membuka pekan ini dengan tren koreksi yang berlanjut. Data perdagangan Senin (26/1) menunjukkan kontrak ICE Newcastle pengiriman Januari 2026 melemah ke level US$ 109,00 per ton (-0,50%), sementara kontrak Februari turun lebih dalam ke US$ 111,50 per ton (-1,30).
Stagnasi harga di level ini memicu “lampu kuning” bagi kas negara. Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) memprediksi target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Minerba tahun 2026 sebesar Rp 134 triliun akan sulit tercapai jika tren harga tidak beranjak.
Head Center INDEF, Andry Satrio Nugroho, menghitung bahwa untuk menyamai kinerja PNBP tahun lalu, harga batu bara idealnya harus berada di level US$ 157 per ton, jauh di atas posisi pasar saat ini (~US$ 109). Jika harga bertahan stagnan hingga akhir tahun, INDEF memproyeksikan realisasi PNBP Minerba bisa anjlok di bawah Rp 100 triliun, meleset jauh dari target pemerintah. Meski pasar lesu, Kementerian ESDM tetap mematok target Rp 134 triliun (naik 7,6% dari target 2025), dengan asumsi pemangkasan produksi nasional akan mengerek harga dan pengawasan tata kelola yang lebih ketat.