
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik Domestik, Tiongkok Beralih ke Bahan Kimia Berbasis Batu Bara
Konflik Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz telah memutus 70% pasokan nafta global, menghancurkan sektor petrokimia Indonesia yang 100% bergantung pada impor. Harga plastik domestik meroket, dengan biaya kemasan melonjak 60% dan kantong plastik standar naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000. Produsen midstream telah memangkas produksi harian sebesar 30%, memaksa industri masuk ke survival mode dan memicu peringatan ancaman gangguan rantai pasok yang parah di sektor makanan, minuman, dan otomotif.
Untuk menyiasati blokade, industri Indonesia mencoba mengimpor nafta dari Afrika dan Amerika. Namun, pergeseran rute ini memperpanjang waktu pengiriman dari 10-15 hari menjadi hingga 50 hari, melumpuhkan logistik dan menggelembungkan biaya operasional secara drastis. Di tengah kekurangan pasokan dan lonjakan harga domestik ini, Indonesia tetap mengimpor plastik senilai US$873,2 juta pada Februari 2026, yang pasokannya didominasi oleh Tiongkok, Thailand, dan Korea Selatan.
Sebaliknya, Tiongkok memanfaatkan guncangan pasokan minyak ini dengan mengekspansi infrastruktur Coal-to-Olefins (CTO) secara agresif. Memanfaatkan cadangan batu bara domestiknya yang melimpah, Tiongkok menggunakan teknologi CTO untuk mengubah batu bara melalui proses gasifikasi menjadi gas sintetis (syngas), memprosesnya menjadi metanol, dan kemudian mempolimerisasinya menjadi plastik dasar seperti etilen dan propilen tanpa bergantung pada minyak mentah impor. Dengan keunggulan margin batu bara atas minyak berada di titik terlebar sejak 2015, China Shenhua Energy Co. mengalihkan belanja modalnya untuk melipatgandakan kapasitas polietilen dan polipropilen berbasis CTO menjadi 1,4 juta ton pada 2027, mengamankan rantai pasok bahan kimia yang sangat menguntungkan dan mandiri.


