OilPrice — 06 Januari 2026 — Ambisi Singapura untuk mempertahankan takhta sebagai “Kekaisaran Digital Asia Tenggara” kini menabrak dinding tebal: keterbatasan lahan dan krisis pasokan energi. Laporan terbaru menyoroti bahwa negara kota ini sedang mengalami “overheating” fisik akibat ledakan permintaan listrik dari sektor Data Center dan AI yang sangat boros energi.
Paradoks “Green” & Dominasi Gas 94%
Di balik citra futuristiknya, kelistrikan Singapura sangat rentan karena 94% bergantung pada gas alam impor. Energi terbarukan hanya menyumbang porsi kecil (3,5%), menciptakan ironi di mana Data Center yang diklaim “hijau” sebenarnya ditenagai oleh pembakaran fosil. Dengan ketiadaan sumber daya domestik, setiap penambahan server baru berarti peningkatan utang energi pada pasar komoditas global yang fluktuatif.
Johor Jadi “Ruang Mesin” Baru
Menyadari keterbatasan fisiknya, Singapura memberlakukan moratorium dan seleksi ketat untuk fasilitas baru (mengutamakan “kualitas beban kerja” daripada kapasitas). Dampaknya, terjadi spillover arus modal besar-besaran ke Johor, Malaysia. Raksasa teknologi mulai membangun kampus data center di seberang perbatasan, menciptakan dinamika baru: Singapura sebagai “Kantor Pusat” (HQ), sementara Johor menjadi “Ruang Mesin” yang menyediakan lahan dan listrik.