Setiap elemen fisik kota—dari beton gedung pencakar langit hingga aspal jalan—berasal dari ekstraksi material bumi. Memahami asal-usul material ini menyingkap rantai pasok yang menghubungkan pusat kota dengan daerah pinggiran (hinterland).
Semen: Transformasi Batugamping Purba
Semen Portland adalah “lem” yang merekatkan beton modern. Bahan baku utamanya adalah batugamping (kalsium karbonat).
- Sumber Geologis (Formasi Klapanunggal): Pabrik semen besar seperti Indocement di Citeureup, Bogor, menambang batugamping dari Formasi Klapanunggal. Batuan ini berumur Miosen Tengah (sekitar 15 juta tahun lalu), terbentuk di lingkungan laut dangkal yang hangat.
- Bukti Paleontologi: Pengamatan petrografi pada batugamping ini menunjukkan kelimpahan fosil foraminifera besar, koral, dan alga (coralline algae). Ini membuktikan bahwa wilayah Bogor dulunya adalah paparan terumbu karang tropis.
- Kualitas Kimia: Untuk pembuatan semen, batugamping harus memiliki kadar Kalsium Oksida (CaO) yang tinggi dan Magnesium Oksida (MgO) yang rendah. Tipe batuan Packstone dan Wackestone di Citeureup memenuhi kriteria ini. Proses produksi melibatkan pembakaran batugamping bersama tanah liat (sumber silika/alumina) dan pasir besi pada suhu 1.450°C untuk membentuk klinker.
Andesit: Batuan Beku Penopang Infrastruktur
Beton membutuhkan agregat kasar (batu pecah/split) yang keras dan tahan aus. Sumber utamanya adalah batuan andesit.
- Tambang Rumpin dan Cigudeg: Wilayah Rumpin di Bogor Barat adalah pemasok utama batu andesit untuk Jabodetabek. Secara geologis, batuan ini merupakan intrusi (terobosan magma) atau aliran lava masif berumur Pliosen-Plistosen.
- Karakteristik Teknik: Andesit adalah batuan beku intermediet dengan tekstur porfiritik atau afanitik. Kekuatannya yang tinggi (kuat tekan > 800 kg/cm²) menjadikannya ideal untuk fondasi jalan tol, landasan pacu bandara, dan beton mutu tinggi.
- Dampak Lingkungan: Skala penambangan di Rumpin telah mengubah morfologi bukit menjadi cekungan raksasa (quarry). Aktivitas ini juga memicu konflik sosial akibat kerusakan jalan parah di jalur distribusi (Parung Panjang) oleh ribuan truk yang kelebihan muatan (overload) setiap hari.
Pasir: Variasi Provenansi dan Kualitas
Pasir konstruksi memiliki karakteristik yang sangat berbeda tergantung pada asal usul geologisnya (provenance).
1 Pasir Bangka (Granitic Origin)
- Asal: Berasal dari pelapukan batuan granit di Pulau Bangka dan Belitung. Granit kaya akan mineral kuarsa (SiO2) yang keras dan resisten terhadap pelapukan kimia.
- Kualitas: Pasir ini berwarna putih, krem, atau cokelat muda. Keunggulannya adalah kandungan silika yang tinggi dan kadar lumpur yang sangat rendah. Butirannya tajam dan keras.
- Kegunaan: Sangat dicari untuk pengecoran beton mutu tinggi dan plesteran dinding karena menghasilkan permukaan yang halus dan kuat. Harganya relatif mahal (premium) di pasar Jakarta.
2 Pasir Jebrod/Cianjur (Volcanic Origin)
- Asal: Berasal dari endapan vulkanik di daerah Jebrod (Cianjur) atau Sukabumi. Pasir ini merupakan hasil rombakan batuan andesit/basalt.
- Karakteristik: Berwarna merah bata atau oranye kemerahan karena kandungan mineral besi (oksida besi) yang tinggi. Teksturnya lebih kasar dengan butiran yang agak besar.
- Kegunaan: Kandungan besinya memberikan daya rekat yang kuat. Sangat populer untuk pengecoran fondasi, tiang, dan sloof bangunan karena sifatnya yang mengikat kuat (interlocking). Namun, teksturnya yang kasar membuatnya kurang cocok untuk plesteran halus.
3 Pasir Rangkas dan Cilegon (Fluvial Origin)
- Asal: Endapan sungai atau darat di wilayah Banten (Rangkasbitung).
- Karakteristik: Warna putih keabu-abuan, tekstur lembut. Harganya lebih ekonomis.
- Kegunaan: Sering digunakan untuk pemasangan keramik, pembuatan batako, dan campuran adukan semen umum.
4 Pasir Sungai (Progo vs. Pantura)
- Pasir Progo (Yogyakarta): Berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang terbawa Sungai Progo. Kualitasnya sangat baik (kadar lumpur < 5%) dan memenuhi standar beton struktural.
- Pasir Pantura: Endapan sungai di dataran rendah utara Jawa seringkali memiliki kadar lumpur tinggi (> 10%), yang dapat melemahkan ikatan semen dalam beton, sehingga kurang direkomendasikan untuk struktur utama.
Baja: Tulangan Bangunan
Baja tulangan (rebar) diproduksi dari bijih besi. Di Indonesia, industri baja (seperti Krakatau Steel di Cilegon) menggunakan bahan baku pellet bijih besi impor dan juga besi spons dari pasir besi lokal. Pasir besi banyak ditemukan di pantai selatan Jawa (Kulon Progo, Cilacap) sebagai endapan plaser pantai yang kaya mineral titanomagnetite, hasil erosi batuan gunung api.