Metode Perhitungan Sumber Daya dan Cadangan

Metode perhitungan cadangan adalah salah satu aspek paling penting dalam evaluasi proyek pertambangan, yang bertujuan untuk mengestimasi kuantitas dan kualitas endapan bahan galian. Proses ini dimulai dari estimasi sumber daya hingga penentuan cadangan tertambang yang akan menjadi dasar studi kelayakan.

Klasifikasi Sumber Daya dan Cadangan

Hubungan antara sumberdaya dan cadangan (Australian Code for Reporting Identified Coal Resources dan Reserve, 1996)

Klasifikasi ini didasarkan pada tingkat keyakinan geologi yang meningkat seiring dengan tahapan eksplorasi.

  • Sumber Daya (Resources): Kuantitas endapan mineral dengan prospek ekonomi yang beralasan untuk ditambang di masa depan.
    • Hipotetik (Hypothetical): Dihitung pada tahap survei tinjau.
    • Tereka (Inferred): Dihitung pada tahap prospeksi. Tingkat keyakinan geologi paling rendah.
    • Terunjuk (Indicated): Dihitung pada tahap eksplorasi pendahuluan.
    • Terukur (Measured): Dihitung pada tahap eksplorasi rinci. Tingkat keyakinan geologi paling tinggi.
  • Cadangan (Reserves): Bagian dari sumber daya terukur dan/atau terunjuk yang layak ditambang secara ekonomis setelah mempertimbangkan berbagai faktor pengubah (studi kelayakan).
    • Terkira (Probable): Berasal dari sumber daya terunjuk (dan sebagian terukur) yang telah memenuhi kajian kelayakan.
    • Terbukti (Proven): Berasal dari sumber daya terukur yang telah memenuhi semua faktor kajian kelayakan.

Untuk mengubah status sumber daya menjadi cadangan, diperlukan penerapan strategi eksploitasi dan mempertimbangkan faktor-faktor seperti mining losses dan processing losses.


Konsep-Konsep Dasar

Beberapa konsep fundamental menjadi dasar dalam proses perhitungan:

  • Bijih (Ore): Mineral atau batuan yang mengandung logam berharga yang dapat diekstraksi secara menguntungkan sesuai kondisi teknologi dan ekonomi saat itu.
  • Dilusi (Dilution): Tercampurnya material non-bijih (waste) ke dalam bijih selama penambangan, yang menaikkan tonase namun menurunkan kadar rata-rata.
  • Densitas Ruah (Bulk Density): Massa per unit volume yang memperhitungkan porositas batuan. Parameter ini krusial untuk mengubah data volume menjadi tonase.
  • Cutoff Grade (COG): Kadar batas yang memisahkan antara material yang ekonomis untuk ditambang (bijih) dan yang tidak (waste). Kenaikan COG akan menurunkan tonase bijih dan menaikkan stripping ratio.
  • Stripping Ratio (SR): Perbandingan antara jumlah material waste yang harus dikupas untuk mendapatkan satu satuan bijih.
  • Losses: Kehilangan material berharga yang dapat terjadi karena kesalahan interpretasi geologi (geological losses), keterbatasan alat tambang (mining losses), atau selama proses pengolahan (processing losses).
  • Variabel Teregional: Variabel yang terdistribusi dalam ruang dan memiliki struktur (autokorelasi), di mana sampel yang berdekatan cenderung memiliki nilai yang lebih mirip. Support atau besaran sampel memengaruhi variabilitas nilai; sampel yang lebih besar cenderung menurunkan variabilitas (efek smoothing).

Metode Perhitungan Sumber Daya

Metode perhitungan dapat dibagi menjadi metode klasik (konvensional) dan metode berbasis model blok (grid).

Metode Klasik

Metode ini sering digunakan pada tahap awal atau untuk verifikasi hasil perhitungan komputer.

  1. Metode Penampang (Cross-Section): Cocok untuk endapan berbentuk tabular. Volume dihitung dengan mengintegrasikan luas area dari dua atau lebih penampang menggunakan rumus-rumus seperti Luas Rata-rata (Mean Area) , Prismoida , Kerucut Terpancung , atau Obelisk. Metode ini memiliki keuntungan karena perhitungannya tidak rumit dan dapat langsung menyajikan interpretasi model.
  2. Metode Poligon (Area of Influence): Umumnya diterapkan pada endapan yang relatif homogen dan sederhana. Metode ini mengasumsikan bahwa satu titik sampel mewakili seluruh area di dalam poligon yang mengelilinginya. Terdapat varian seperti Poligon Rectangular yang cocok untuk endapan dengan anisotropi geometri yang kontras, misalnya pasir besi pantai.
  3. Metode Segitiga: Menggunakan tiga titik data untuk membentuk prisma triangular, di mana parameter di seluruh area segitiga diwakili oleh ketiga titik tersebut.
  4. Metode Isoline: Menggunakan garis kontur yang menghubungkan titik-titik bernilai sama (kadar atau ketebalan). Metode ini tidak cocok untuk endapan yang kompleks atau terputus-putus.

Metode Model Blok (Grid)

Metode ini merepresentasikan endapan dalam bentuk blok-blok tiga dimensi. Kadar atau nilai pada setiap blok diestimasi menggunakan data sampel di sekitarnya.

  1. Nearest Neighbor Point (NNP): Disebut juga poligon daerah pengaruh, di mana nilai suatu blok ditentukan oleh nilai titik sampel terdekat.
  2. Inverse Distance Weighting (IDW): Merupakan metode penaksiran dengan rata-rata tertimbang (weighted average), di mana bobotnya berbanding terbalik dengan jarak dari titik data ke pusat blok yang diestimasi. Data yang lebih dekat akan mendapat bobot yang lebih besar. Peninggian pangkat (ID², ID³, dst.) akan membuat hasilnya semakin mendekati metode NNP.
  3. Kriging (Geostatistik): Metode penaksir yang dianggap paling baik karena tidak hanya memperhitungkan jarak, tetapi juga korelasi spasial antar conto yang digambarkan dalam variogram. Metode ini menghasilkan taksiran yang tidak bias dengan varians minimum.

Pentingnya Perhitungan Sumber Daya yang Akurat

Perhitungan sumber daya yang cermat sangat krusial karena hasilnya akan digunakan untuk:

  • Menentukan umur tambang serta merancang pabrik pengolahan dan infrastruktur lainnya.
  • Menetapkan batas kegiatan penambangan (pit limit).
  • Menentukan urutan penambangan yang akan memengaruhi nilai ekonomi proyek (NPV).

Oleh karena itu, setiap taksiran harus didasarkan pada data aktual yang objektif, mencerminkan kondisi geologi, dan menggunakan metode yang dapat diverifikasi.

Sahat N
Author: Sahat N

Leave a Comment