Museum, Program Sekolah, Pelibatan Desa Adat

Museum Geopark Batur: Pusat Edukasi dan Informasi

Museum Geopark Batur, yang diresmikan pada tahun 2017, menjadi pusat informasi tentang taman bumi nasional dan internasional, khususnya Kaldera Batur. Museum ini menyajikan miniatur Gunung Batur dan Danau Batur, koleksi batuan produk letusan, informasi flora dan fauna lokal, serta ruang pameran keanekaragaman geologi, hayati, dan budaya Indonesia.

Di lantai dua, tersedia auditorium untuk menonton film dokumenter tentang geopark dan gunung api, serta pos pengamatan aktivitas vulkanik yang dapat digunakan pengunjung untuk memantau Gunung Batur secara langsung.

Museum ini juga menjadi tempat pelatihan, seminar, dan program edukasi bagi pelajar, wisatawan, dan masyarakat lokal, mendukung peran geopark sebagai laboratorium alam terbuka.

Program Sekolah dan Pelatihan Masyarakat

Sejak tahun 2013, sekolah-sekolah di Kabupaten Bangli telah mengintegrasikan pembelajaran geosains dan lingkungan berbasis geopark. Lembaga seperti Badan Pengelola Geopark Batur aktif mengadakan pelatihan, seminar, dan kegiatan eksplorasi bagi pelajar dan peneliti.

Perhimpunan Pemandu Pendakian Gunung Batur (P3GB) telah berdiri selama 20 tahun dan menjadi mitra BKSDA, BPBD, PMI, dan BASARNAS dalam pelatihan mitigasi bencana dan pemanduan wisata geologi.

Pelibatan Desa Adat dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Konsep pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) mulai diterapkan untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan. Model ini bertujuan meminimalkan dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan dan budaya, serta menciptakan dampak ekonomi yang positif melalui pembagian keuntungan yang adil dan pemberdayaan politik masyarakat lokal.

Perusahaan sosial dan UMKM didorong untuk menjadi kendaraan bagi produk dan layanan masyarakat, seperti joint venture, asosiasi masyarakat, dan perekrutan usaha kecil menengah.


Penelitian Ilmiah Terbaru dan Publikasi Akademik tentang Batur

Penelitian terbaru mengenai Danau Batur dan kawasan geopark meliputi:

  • Analisis kualitas air dan status mutu air: Penelitian menggunakan metode NSF-WQI dan STORET menunjukkan status air Danau Batur berkategori sedang hingga cemar berat, dengan parameter fosfat, COD, dan TDS melebihi baku mutu.
  • Identifikasi pencemaran nutrien: Konsentrasi total fosfat dan nitrogen di beberapa titik telah melebihi baku mutu, dengan sumber utama dari pertanian dan KJA.
  • Keanekaragaman vegetasi akuatik: Ditemukan tujuh spesies vegetasi akuatik, enam di antaranya invasif, yang dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat sekitar dan proses eutrofikasi.
  • Model sistem dinamik dan DSS: Pengembangan model sistem dinamik dan Decision Support System (DSS) untuk pengelolaan Danau Batur, melibatkan BRIN, KKP, dan pemerintah daerah, dengan tujuan menentukan alokasi beban pencemaran dan rekomendasi pengelolaan berkelanjutan.
  • Strategi pengendalian pencemaran: Analisis force field menghasilkan strategi seperti peningkatan sosialisasi, promosi pelestarian, pelatihan kewirausahaan, sinergi kebijakan, dan pembentukan satgas pengendalian pencemaran.

Geodiversity dan Biodiversity: Flora, Fauna, dan Ikan Danau Batur

Keanekaragaman Hayati dan Spesies Endemik

Kawasan Batur memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk vegetasi khas ekosistem pegunungan, flora endemik, dan fauna air tawar di Danau Batur. Anjing Kintamani dan pohon Taru Menyan merupakan dua ciri khas biodiversity yang membedakan kawasan ini dari geopark lain di dunia.

Danau Batur juga menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan air tawar, seperti ikan nila, mujair, dan ikan endemik lainnya. Namun, pencemaran nutrien dan ledakan alga telah menyebabkan kematian massal ikan setiap tahun, mengancam keberlanjutan ekosistem dan ekonomi masyarakat.

Vegetasi Akuatik dan Spesies Invasif

Penelitian menemukan tujuh spesies vegetasi akuatik di Danau Batur, dengan enam di antaranya merupakan spesies invasif seperti Alternanthera philoxeroides, Eichhornia crassipes (eceng gondok), dan Azolla pinnata. Ledakan populasi vegetasi air akibat eutrofikasi dapat mengganggu keseimbangan ekologi dan mengurangi kualitas air danau.

Leave a Comment