Bloomberg— 16 Desember 2025 — Rencana pemerintah menggantikan Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan Dimethyl Ether (DME) hasil gasifikasi batu bara diprediksi akan membebani keuangan negara secara signifikan. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, memperkirakan kebutuhan subsidi untuk proyek ini bisa tembus Rp147 triliun, melonjak drastis sekitar Rp57—Rp60 triliun dibandingkan pagu subsidi LPG saat ini yang sebesar Rp87,6 triliun.
Menurut Syafruddin, biaya produksi DME yang masih tinggi di tahap awal pengembangan menuntut subsidi besar agar harga jualnya terjangkau oleh masyarakat. Dengan asumsi volume kebutuhan setara LPG 3 Kg (8,17 juta ton/tahun), berikut simulasi beban subsidi negara:
- Skenario Subsidi Rp12.000/kg: Total kebutuhan anggaran mencapai Rp98 triliun.
- Skenario Subsidi Rp15.000/kg: Total kebutuhan anggaran melonjak ke Rp123 triliun.
- Skenario Subsidi Rp18.000/kg: Total kebutuhan anggaran menembus Rp147 triliun.
Hanya Sebagai Pelengkap, Bukan Pengganti
Mengingat risiko teknologi, padat modal, dan kompleksitas rantai pasok, DME dinilai lebih realistis diposisikan sebagai pelengkap (complement) ketimbang pengganti penuh (substitute) LPG.
Di sisi pemerintah, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan pihaknya tengah menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) DME. Ia memastikan jika DME memerlukan subsidi, sumber dananya akan diambil dari pengalihan subsidi LPG 3 Kg yang saat ini menanggung beban sekitar 70% dari harga keekonomian atau Rp30.000 per tabung.