Mining — 19 Januari 2026 — Spekulasi mega-merger di sektor pertambangan global semakin memanas. Investor kini meyakini bahwa Rio Tinto akan mengajukan penawaran saham penuh (all-share offer) untuk mengakuisisi Glencore dalam kesepakatan yang didorong oleh ambisi menguasai pasokan tembaga masa depan. Analis RBC Capital Markets, Ben Davis, memperkirakan bahwa premi sebesar 15% hingga 30% dari harga saham awal Januari—yang dapat memvaluasi Glencore hingga US$ 87 miliar—akan cukup untuk mengunci kesepakatan tersebut. Jika terealisasi, entitas gabungan yang dijuluki “GlenTinto” ini akan melampaui BHP sebagai perusahaan tambang terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar.
Aset tembaga Glencore disebut sebagai “hadiah utama” yang diincar Rio, khususnya kepemilikan 44% saham di tambang Collahuasi, Chile, yang dianggap investor sebagai permata mahkota (crown jewel) perusahaan tersebut. Langkah anorganik ini dinilai krusial bagi Rio Tinto karena pipa pertumbuhan proyek mereka setelah Oyu Tolgoi dan Simandou dianggap kurang menarik atau masih terkendala perizinan. Untuk memuluskan aksi korporasi ini, analis menyarankan Rio untuk mengambil alih seluruh bisnis Glencore, termasuk divisi batu baranya, meskipun Rio harus “kotor tangan” lagi setelah keluar dari bisnis fosil tersebut pada 2018.
Di sisi kompetisi, BHP diprediksi akan menahan diri (wait and see) kecuali Rio mengajukan penawaran dengan premi rendah di bawah 20%. Namun, risiko terbesar dari kesepakatan ini adalah benturan budaya (culture clash) yang masif antara struktur korporasi Rio Tinto dengan Glencore yang operasionalnya sangat didominasi oleh gaya agresif divisi pemasaran (trading arm).