Sistem pemantauan SPARING dan daftar tanaman yang direkomendasikan untuk Lahan Basah Buatan (Constructed Wetlands) sesuai standar pemerintah.
1. Sistem SPARING (Sistem Pemantauan Air Limbah Real-Time)
Sesuai dengan Permen LHK No. 80 Tahun 2011 dan perubahannya, industri pertambangan wajib mengintegrasikan sensor digital di titik penataan (outfall).
Cara Kerja Sistem:
- Sensor Lapangan: Sensor dipasang terendam di kolam akhir pembuangan. Sensor ini membaca parameter secara otomatis (pH, TSS, Debit, dan parameter spesifik logam).
- Data Logger & Transmitter: Alat ini mengumpulkan data dari sensor, mengonversinya menjadi format digital, dan mengirimkannya melalui jaringan seluler atau satelit.
- Server KLHK (SIMGAL): Data dikirim secara otomatis ke server pemerintah. Jika kualitas air melebihi baku mutu, sistem akan memberikan notifikasi “bendera merah” sebagai peringatan dini pelanggaran lingkungan.
Parameter yang Wajib Dipantau secara Real-time:
- pH: Mengukur tingkat keasaman (wajib 6-9).
- TSS: Mengukur kekeruhan/padatan lumpur.
- Debit: Mengukur volume air yang keluar per detik untuk menghitung beban pencemaran.
2. Lahan Basah Buatan (Constructed Wetlands)
Berdasarkan Permen LHK No. 5 Tahun 2022, teknologi ini digunakan untuk memurnikan air limbah melalui proses alami yang melibatkan tanaman, media, dan mikroba.
Daftar Tanaman yang Direkomendasikan (Hyperaccumulators)
Pemerintah merekomendasikan tanaman yang memiliki kemampuan menyerap logam berat (fitoremediasi) namun tetap tahan terhadap kondisi air yang ekstrem:
| Nama Tanaman | Nama Latin | Fungsi Utama |
| Mendong / Purun | Eleocharis dulcis | Sangat efektif menyerap Besi (Fe) dan Mangan (Mn). |
| Lembang / Typha | Typha angustifolia | Mengurangi kadar TSS dan menetralisir pH; sangat tahan banting. |
| Gelagah | Phragmites karka | Akar yang dalam membantu transfer oksigen ke dalam sedimen untuk oksidasi logam. |
| Eceng Gondok | Eichhornia crassipes | Menyerap logam berat dan amonia (namun harus dikontrol agar tidak invasif). |
| Melati Air | Echinodorus palaefolius | Estetika dan membantu menyerap nutrisi berlebih. |
Komponen Teknis Lahan Basah:
- Inlet Structure: Pintu masuk air limbah yang sudah melalui kolam pengendap awal.
- Media Tanam: Biasanya berupa campuran kerikil, pasir, dan tanah khusus untuk menyaring partikel halus.
- Zona Vegetasi: Area di mana tanaman di atas ditanam dengan kerapatan tertentu.
- Outlet Structure: Pintu keluar air yang sudah bersih menuju badan air nasional (sungai/danau).
Mengapa Kombinasi Ini Penting?
Tanpa SPARING, perusahaan tidak tahu jika terjadi kebocoran asam secara mendadak. Tanpa Lahan Basah, perusahaan harus bergantung sepenuhnya pada bahan kimia mahal (kapur) yang menghasilkan sisa lumpur (sludge) kimia yang juga berbahaya.
Kriteria Teknis Pemasangan SPARING
Berdasarkan standar KLHK, sistem ini harus memenuhi aspek fungsionalitas dan keamanan data.
A. Lokasi Penempatan (Point of Compliance)
- Titik Penaatan: Alat wajib dipasang pada titik pembuangan akhir (outfall) sebelum air masuk ke badan air penerima (sungai atau danau).
- Kondisi Aliran: Lokasi harus memiliki aliran air yang stabil (tidak turbulen berlebih) agar sensor dapat membaca data dengan akurat.
- Keamanan: Area harus dipagar atau diberi pelindung untuk mencegah pencurian atau pengrusakan alat.
B. Spesifikasi Sensor & Perangkat
- Sensor pH: Rentang pengukuran 0-14 dengan akurasi $\pm 0.1$.
- Sensor TSS: Menggunakan metode Optical Scatter (hamburan cahaya) untuk mendeteksi kepekatan lumpur.
- Sensor Debit (Flow Meter): Dapat berupa tipe ultrasonik atau tipe v-notch weir tergantung pada bentuk saluran pembuangan.
- Data Logger: Wajib memiliki fitur penyimpanan data lokal (jika jaringan internet terputus) dan enkripsi data untuk dikirim ke server SIMGAL (Sistem Informasi Pemantauan Lingkungan Hidup Tingkat Nasional).
C. Protokol Komunikasi
- Frekuensi Pengiriman: Data dikirimkan setiap 1 jam sekali (atau sesuai ketentuan terbaru KLHK).
- Uji Kalibrasi: Sensor wajib dikalibrasi secara berkala (minimal 6 bulan sekali) oleh laboratorium lingkungan yang terakreditasi KAN.
2. Rincian Desain Lahan Basah Buatan (Constructed Wetlands)
Untuk mengolah air asam tambang secara pasif, berikut adalah kriteria desain teknisnya:
A. Zonasi Kedalaman
- Zona Inlet (Kedalaman 1-1,5 m): Area pengendapan sisa-sisa padatan (TSS) yang mungkin masih terbawa.
- Zona Vegetasi (Kedalaman 0,3-0,6 m): Area utama di mana tanaman purun atau lembang ditanam. Kedalaman dangkal memastikan akar tanaman mendapatkan oksigen yang cukup.
- Zona Outlet (Kedalaman 1 m): Area penampungan air bersih sebelum dibuang ke lingkungan.
B. Media Tanam (Substrat)
Media tidak hanya tanah biasa, tetapi harus dirancang untuk membantu menetralkan asam:
- Lapisan Dasar: Tanah liat (lempung) setebal 30 cm sebagai lapisan kedap air (liner) agar limbah tidak merembes ke air tanah.
- Lapisan Tengah: Campuran batu gamping (limestone) ukuran 2-5 cm untuk membantu menaikkan pH secara pasif.
- Lapisan Atas: Tanah kaya organik sebagai media tumbuh akar tanaman.
C. Pemeliharaan Tanaman
- Penyulaman: Mengganti tanaman yang mati akibat toksisitas logam yang terlalu tinggi di awal operasional.
- Pemanenan berkala: Bagian atas tanaman (daun/batang) perlu dipangkas setiap 6-12 bulan agar logam yang telah diserap tidak kembali masuk ke dalam air saat tanaman membusuk.