Bloomberg — 23 Januari 2026 – Nilai tukar rupiah menguat 0,37% ke level Rp16.822/US$ pada perdagangan spot Jumat (23/1/2026), mencatat apresiasi tiga hari berturut-turut. Penguatan ini didorong keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%, sesuai ekspektasi pasar, serta komitmen intervensi aktif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
BI menegaskan kesiapan melakukan intervensi signifikan, menyusul pelemahan rupiah yang sempat menembus rekor terendah awal pekan ini. Namun demikian, ruang penguatan rupiah masih terbatas. Di tengah perlambatan ekonomi domestik, BI membuka peluang pelonggaran moneter lanjutan pada 2026, dengan prasyarat inflasi tetap terkendali di kisaran 1,5–3,5% dan kondisi eksternal tetap kondusif. Sejumlah ekonom memperkirakan BI akan memangkas suku bunga hingga tiga kali tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin, setelah pemangkasan kumulatif 150 basis poin sepanjang September 2024–September 2025.
Dari eksternal, pelemahan indeks dolar AS turut memberi sentimen positif bagi mata uang Asia, seiring meredanya ketegangan geopolitik dan ekspektasi The Fed menahan suku bunga. Namun tekanan struktural masih membayangi, tercermin dari arus keluar modal asing bersih sebesar US$1,6 miliar per 19 Januari 2026. Dengan demikian, penguatan rupiah saat ini dinilai lebih sebagai jeda teknikal dari tekanan, bukan sinyal pembalikan tren. Pasar masih mencermati sejauh mana pelonggaran moneter ke depan mampu menopang pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar.