Tembaga Tembus Rekor US$11.540 Akibat ‘Panic Buying’ Tarif AS, Goldman Sachs: Awas, Cuma Sesaat!

Bloomberg/Mining — 04 Desember 2025 — Harga tembaga dunia mencetak sejarah baru dengan menembus rekor tertinggi US$11.540 per ton di London Metal Exchange (LME) pada Rabu (3/12). Lonjakan harga yang telah naik lebih dari 30% sepanjang tahun ini dipicu oleh kepanikan pasar akan potensi krisis pasokan (supply squeeze), seiring aksi pedagang yang berlomba mengirim stok logam ke Amerika Serikat sebelum Presiden terpilih Donald Trump memberlakukan tarif impor baru.

Kepanikan ini diperparah oleh peringatan dari rumah dagang raksasa Mercuria Energy Group mengenai dislokasi pasokan “ekstrem” di kuartal I-2026, serta gangguan produksi tambang di Chile, Indonesia, dan pemangkasan target output Glencore serta Ivanhoe Mines di Kongo. Sentimen ini turut mengerek saham pertambangan di Asia, seperti CMOC Group (+6%) dan Capstone Copper (+8,2%).

Di tengah euforia reli, Goldman Sachs Group Inc. justru mengeluarkan peringatan keras. Analis Goldman menilai lonjakan harga di atas US$11.000 tidak akan bertahan lama karena didorong oleh ekspektasi semata, bukan fundamental riil. Bank investasi tersebut memproyeksikan:

  • Pasar tembaga global masih akan surplus 160.000 ton pada 2026.
  • Harga diprediksi terkoreksi dan terkonsolidasi di rentang US$10.000 – US$11.000 per ton tahun depan.
  • Defisit pasokan (kekurangan stok) yang sesungguhnya baru diperkirakan terjadi pada 2029.

Goldman juga menyoroti pelemahan permintaan dari China sebagai konsumen terbesar. Konsumsi tembaga China diprediksi anjlok hampir 8% (year-on-year) pada kuartal IV-2025, yang menjadi sinyal bahwa fundamental permintaan fisik sebenarnya belum sekuat harga di pasar berjangka.

Leave a Comment