Bloomberg — 24 Desember 2025 — Harga tembaga dunia mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) dengan menembus level psikologis US$12.000 per ton pada perdagangan Selasa (23/12). Di London Metal Exchange (LME), harga logam industri ini melonjak 2% hingga menyentuh US$12.159,50 per ton, memperpanjang reli kenaikan yang telah mencapai hampir 40% sepanjang tahun ini. Kinerja ini menempatkan tembaga pada jalur keuntungan tahunan terbesarnya sejak 2009.
Pemicu Utama: Spekulasi Tarif & Perang Penawaran
Faktor sentral di balik lonjakan ini adalah spekulasi bahwa pemerintahan Donald Trump akan memberlakukan tarif impor baru, yang memicu lonjakan impor AS sepanjang tahun dan memaksa manufaktur di negara lain terlibat dalam “perang penawaran” (bidding war) untuk mengamankan pasokan. Anomali terjadi di pasar, di mana harga tetap meroket meskipun permintaan di China—konsumen separuh tembaga dunia—sedang melemah.
Tekanan Struktural & “Hype” AI
Di sisi suplai, gangguan produksi tambang di Amerika, Afrika, dan Asia telah mencekik output tepat ketika pemerintah global meningkatkan belanja untuk elektrifikasi dan energi terbarukan. Investor juga mulai memperhitungkan lonjakan permintaan dari infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data centers) yang sangat boros tembaga. Albert Mackenzie dari Benchmark Minerals menegaskan, “Hampir segala sesuatu yang ingin diinvestasikan oleh ekonomi global saat ini bersifat intensif tembaga”.
Proyeksi Defisit: Krisis Jangka Panjang
BloombergNEF (BNEF) memprediksi pasar tembaga akan masuk ke fase defisit struktural mulai tahun 2026. Permintaan terkait transisi energi diperkirakan naik tiga kali lipat pada 2045. Tanpa investasi masif di tambang baru dan daur ulang, dunia terancam menghadapi defisit pasokan hingga 19 juta ton pada tahun 2050.