Mining — 30 Desember 2025 — Harga tembaga bergejolak tajam akhir 2025. Di LME London, harga sempat mendekati US$13.000/ton, menutup tahun dengan kenaikan sekitar 35%—terbesar sejak 2009. Sebaliknya, di CME New York harga jatuh hingga 6%, mencerminkan perbedaan sentimen antar pasar.
Reli dipicu spekulasi tarif impor AS yang mendorong front-loading pasokan ke AS dan memicu persaingan global, meski permintaan China (±50% konsumsi global) melemah. Dari sisi pasokan, gangguan tambang sepanjang 2025—Grasberg (Indonesia), Kamoa-Kakula (DRC), dan El Teniente (Chile)—serta perizinan lambat dan biaya tinggi proyek baru menahan output.
Ke depan, tekanan struktural tetap kuat. BloombergNEF memproyeksikan permintaan tembaga dari transisi energi, jaringan listrik, data center, dan AI bisa tiga kali lipat pada 2045, mendorong defisit mulai 2026. Tanpa investasi dan daur ulang signifikan, kekurangan kumulatif berpotensi mencapai 19 juta ton pada 2050.