Bisnis – 7 November 2025 — Tiga emiten energi besar, ADRO, INDY, dan TOBA, kompak mencatatkan penurunan pendapatan di Kuartal III-2025 seiring upaya diversifikasi meninggalkan bisnis batu bara dan normalisasi harga. Rapor kinerja ini menunjukkan kecepatan transisi energi hijau yang berbeda di antara ketiganya.
Upaya ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memensiunkan PLTU dalam 15 tahun dan mencapai netral karbon pada 2060.
TOBA: Bisnis Limbah Meroket 1.047%, Batu Bara Ditinggal
PT TBS Energi Utama TOBA menunjukkan transisi paling agresif. Meski mencatat rugi bersih US$127,38 juta (dari laba US$34,84 juta) dan pendapatan total turun 14,40% (menjadi US$288,17 juta), segmen waste management (bisnis hijau) melejit 1.047% YoY menjadi US$111,92 juta (dari US$9,75 juta).
- Kontribusi Batu Bara: Turun dari 80,51% kini hanya 52,26% dari total pendapatan.
- Kontribusi Bisnis Limbah: Melonjak dari 2,89% menjadi 38,84%.
- Strategi: TOBA akan menginvestasikan SGD 200 juta (Rp2,56 T) di CORA Environment (Singapura) dan menargetkan hengkang total dari batu bara pada 2030.
INDY: Bisnis Hijau Tumbuh Stabil
PT Indika Energi Tbk. INDY mencatat penurunan pendapatan 19,1% YoY menjadi US$1,44 miliar, terutama akibat penurunan harga jual rata-rata batu bara Kideco sebesar 14,7%.
- Bisnis Hijau: Segmen ini (termasuk PLTS) mencatat pertumbuhan 5,99% YoY menjadi US$40,31 juta.
- *Strategi: INDY baru saja merampungkan akuisisi proyek PLTS senilai *Rp31 miliar* untuk PLN Geothermal.
ADRO: Laba Tergerus Pasca Spin-Off Batu Bara
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. ADRO mencatatkan laba bersih anjlok 74,5% YoY menjadi US$301,5 juta dan pendapatan turun 12,97% menjadi US$1,34 miliar. Penurunan laba ini terutama disebabkan efek spin-off lini bisnis batu bara termal (AADI).
- Bisnis Non-Batu Bara: Segmen “lain-lain” justru tercatat turun menjadi US$33,72 juta (dari US$63,49 juta).
- Strategi: ADRO menargetkan 50% pendapatan berasal dari non-batu bara termal pada 2030.