
Harga Batu Bara Mixed di Tengah Penurunan Ekspor Indonesia & Dinamika Kebijakan Global
InvestorID – 13 April 2026 – Harga futures batu bara global bergerak mixed ketika pasar terus mencerna pelemahan ekspor Indonesia, perubahan kebijakan energi, dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi. Berdasarkan layar ICE terbaru, Newcastle Coal Apr’26 turun ke US$134,90/ton, melemah US$0,60 atau 0,44% dari penutupan sebelumnya di US$135,50/ton. Struktur forward juga tidak seragam, dengan Mei 2026 di US$129,90/ton (-US$2,50), Juni 2026 di US$130,50/ton (-US$2,75), sementara Juli 2026 justru naik ke US$133,00/ton (+US$2,05). Sebaliknya, Rotterdam Coal Apr’26 naik ke US$106,00/ton, bertambah US$1,15 atau 1,10%, dengan Mei 2026 di US$107,30/ton (+US$1,55) dan Juni 2026 di US$112,00/ton (+US$3,50), menunjukkan sentimen yang lebih kuat di pasar Eropa.
Di pasar fisik, ekspor batu bara termal Indonesia tengah tertekan. Pengapalan harian dilaporkan turun menjadi sekitar 930.000 ton dalam lima hari terakhir, atau turun 25% secara mingguan dan 29% di bawah rata-rata harian 2025 sebesar 1,31 juta ton. Meski begitu, harga FOB Kalimantan untuk batu bara kalori rendah masih relatif stabil, dengan 4.200 GAR di sekitar US$60/ton, 3.800 GAR di US$48,30/ton, dan 3.400 GAR di US$36,35/ton. Ini menunjukkan pasar seaborne masih tertopang oleh ketatnya pasokan, walau sentimen di pasar futures mulai lebih selektif.
Latar belakang pasar juga masih sangat dinamis. Di AS, arah kebijakan energi kembali lebih pro-batu bara di bawah Presiden Donald Trump, sementara di Eropa, Italia menunda penutupan permanen empat PLTU hingga 2038 akibat mahalnya pembangkitan berbasis gas. Bagi pasar, pesannya jelas: batu bara masih mendapat dukungan dari isu ketahanan energi dan gangguan rantai pasok, tetapi arah harga jangka pendek kini makin terfragmentasi menurut kawasan, bulan kontrak, dan nilai kalori.

