klipping berita

Industri Semen Indonesia di Ambang Krisis: Kelangkaan Batu Bara Paksa Pabrik Berhenti Produksi

Kontan | 16 April 2026 – Industri semen Indonesia tengah dilanda krisis pasokan batu bara yang parah, memicu penutupan sejumlah pabrik dan mengancam penghentian produksi yang lebih luas. Batu bara — bahan bakar utama dalam proses produksi semen — kian langka menyusul keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 perusahaan tambang, yang turut menekan tingkat produksi.

Industri semen Indonesia kini terpaksa membeli batu bara dengan harga non-DMO di pasar spot karena keterlambatan persetujuan RKAB dan aturan prioritas pasokan baru terus menekan ketersediaan dari pemasok reguler. ASPERSSI menyebut kondisi ini sangat berat terutama bagi produsen semen swasta yang masih menunggu kepastian alokasi Domestic Market Obligation, sementara implementasi kebijakan PP 39/2025 dinilai cenderung memprioritaskan pengguna strategis yang terafiliasi negara. Akibatnya, biaya bahan bakar produsen melonjak dan mulai diteruskan ke harga jual semen, dengan harga semen kemasan di luar Jawa dilaporkan sudah naik sekitar Rp2.000 per zak 50 kg.

Kelemahan struktural sektor ini sudah terlihat jelas: kapasitas produksi semen nasional mencapai 119 juta ton per tahun, namun realisasi produksi hanya 64–67,8 juta ton, dengan tingkat utilisasi kapasitas yang hanya 55–56%. Kini, menipisnya stok batu bara semakin menekan output yang sudah terbatas tersebut.

Menurut Asosiasi Produsen Semen Indonesia (Asperssi), rata-rata stok batu bara di pabrik-pabrik semen — per 25 Maret — hanya cukup untuk beroperasi hingga pekan ketiga April. Tenggat waktu itu kini telah tiba. Pabrik semen SBI di Cilacap dan Tuban sudah terpaksa menghentikan operasional akibat kelangkaan batu bara dan lonjakan biaya energi. Jika pasokan tidak segera pulih, fasilitas tambahan di Tuban serta lini produksi Conch di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara terancam ikut berhenti. Dengan stok batu bara yang makin kritis dan beberapa pabrik sudah berhenti beroperasi, krisis ini kini bukan lagi sekadar masalah pasokan, tetapi sudah menjadi tekanan langsung terhadap biaya dan daya saing industri.

Author: Mata Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *