
Menelusuri Jejak Spiritual di Bumi Sukowati: 6 Destinasi Wisata Religi Unggulan di Kabupaten Sragen
Kabupaten Sragen, Jawa Tengah—yang sering dijuluki sebagai “Bumi Sukowati”—menyimpan pesona pariwisata yang tak kalah memukau dibandingkan wilayah Solo Raya lainnya. Jika Anda berpikir Sragen hanya tentang situs purbakala, Anda akan terkejut menemukan kedalaman warisan sejarah, budaya, dan spiritualitas yang ada di kota ini.
Sragen menawarkan pengalaman wisata religi yang sangat beragam dan inklusif. Di sini, Anda bisa menapaktilasi makam tokoh-tokoh besar Nusantara hingga mengunjungi tempat ibadah yang sakral dan menenangkan. Terutama di momen liburan atau akhir pekan, Sragen menjadi alternatif destinasi yang sempurna bagi Anda yang ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kota dan mengisi waktu dengan perjalanan spiritual yang penuh makna.
Berikut adalah ulasan mendetail mengenai rekomendasi wisata religi terbaik di Kabupaten Sragen:
1. Punden Tingkir Sangiran: Perpaduan Petilasan Sejarah dan Taman Rekreasi
Punden Tingkir bukan sekadar tempat ziarah biasa. Berlokasi di Kebayanan II, Krikilan, Kecamatan Kalijambe (masih dalam kawasan situs Sangiran), tempat ini diyakini sebagai petilasan (tempat singgah) tokoh legendaris Joko Tingkir.
Perjalanan Spiritual: Untuk mencapai puncak punden, peziarah diajak untuk mendaki 101 anak tangga. Pendakian ini sering dimaknai sebagai simbol perjuangan spiritual. Anda tidak perlu khawatir kelelahan, karena pengelola telah menyediakan gazebo-gazebo yang rindang untuk beristirahat di sepanjang jalur pendakian.
Daya Tarik Tambahan: Mengikuti perkembangan zaman, kawasan ini tidak lagi terkesan mistis. Pemerintah desa setempat telah menata punden ini dengan apik, menambahkan taman bunga yang asri, replika perahu bambu, dan kincir angin khas Belanda yang sangat Instagramable.
2. Makam Pangeran Samudera (Gunung Kemukus): Ziarah Sejarah Kerajaan Majapahit
Gunung Kemukus telah lama dikenal sebagai salah satu episentrum ziarah di Jawa Tengah. Terletak di Kebayanan II, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, kawasan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir Pangeran Samudera.
Nilai Sejarah: Pangeran Samudera adalah putra dari Prabu Brawijaya V, raja terakhir dari kejayaan Kerajaan Majapahit.
Waktu Kunjungan Favorit: Puncak keramaian ziarah biasanya terjadi pada malam Jumat Pon, yang secara tradisi dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai hari mangkatnya sang pangeran. Kini, kawasan Gunung Kemukus telah direvitalisasi besar-besaran oleh pemerintah (Kementerian PUPR) menjadi kawasan wisata religi dan keluarga yang tertata rapi, bersih, dan terang benderang.
3. Makam Ki Ageng Srenggi: Menyelami Arsitektur dan Spiritualitas Jawa
Berada di kawasan Sragen Lor, Nglorog, Kecamatan Sragen, makam ini adalah tempat persemayaman Ki Ageng Srenggi, seorang tokoh spiritual lokal yang sangat dihormati dan memiliki kaitan erat dengan cikal bakal masyarakat Sragen.
Keunikan Arsitektur: Saat memasuki kompleks makam, Anda akan disambut oleh gerbang berbentuk gapura yang megah. Gapura ini dihiasi dengan ornamen gading melengkung yang merepresentasikan arsitektur Jawa klasik yang sarat akan filosofi.
Suasana: Tempat ini menawarkan ketenangan khas makam-makam kuno di Jawa, menjadikannya tujuan ziarah yang teduh bagi masyarakat yang ingin mendoakan leluhur sekaligus mencari kedamaian batin.
4. Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima: Oase Ketenangan Umat Katolik
Wisata religi di Sragen tidak terbatas pada jejak Islam dan kejawen. Di Ngrawoh, Pilangsari, Kecamatan Gesi, terdapat sebuah destinasi ziarah Katolik yang sangat indah dan asri.
Filosofi Area: Diresmikan pada tahun 2017, taman doa ini dirancang secara khusus dan terbagi menjadi tiga area utama. Ketiga area ini melambangkan tahapan perjalanan kehidupan umat Allah, yaitu: umat yang berjuang, umat yang berziarah, dan umat yang mulia di surga.
Pengalaman Batin: Dikelilingi oleh pepohonan yang rindang dan udara pedesaan yang segar, tempat ini menjadi lokasi yang sangat ideal untuk melakukan jalan salib, devosi, meditasi, dan kontemplasi menjauh dari kebisingan dunia.
5. Masjid Tua dan Makam Joko Tingkir (Kompleks Kyai Ageng Butuh)
Terletak di Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh (sekitar 25 km dari pusat kota Sragen), kompleks ini adalah harta karun sejarah yang luar biasa, terutama bagi mereka yang menyukai sejarah transisi Kerajaan Demak ke Pajang.
Masjid Tertua: Di kompleks ini berdiri sebuah masjid yang diyakini sebagai masjid tertua di Sragen, didirikan sekitar tahun 1500 Masehi. Di sinilah salat Jumat pertama di wilayah tersebut digelar dengan dipimpin langsung oleh Kyai Ageng Butuh.
Makam Raja Pajang: Area pemakaman di sini adalah tempat peristirahatan terakhir Sultan Hadiwijaya (raja pertama Kerajaan Pajang yang lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir). Selain beliau, terdapat juga makam Kyai Ageng Butuh dan Pangeran Tejowulan.
6. Makam Pangeran Sukowati: Mengenang Sang Pendiri
Jika Anda ingin mengetahui sejarah lahirnya nama “Bumi Sukowati”, Anda wajib mengunjungi makam ini. Berlokasi di bawah naungan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun di Dusun Pengkol, Desa Kecik, Kecamatan Tanon.
Tokoh Sejarah: Makam ini adalah tempat persemayaman Pangeran Adipati Mangkubumi Sukowati (R. Bagus Jambu), tokoh sentral yang sangat berjasa dalam sejarah perlawanan dan pendirian Kabupaten Sragen.
Batu Yoni Bersejarah: Selain berziarah ke makam, pengunjung sering kali mendatangi sebuah artefak kuno berupa Yoni yang terbuat dari batu andesit. Terdapat kepercayaan lokal bahwa air yang menggenang atau berasal dari sekitar Yoni tersebut memiliki khasiat penyembuhan, selama peziarah datang dengan niat yang baik dan doa yang tulus kepada Tuhan.


