klipping berita

Peringatan Kerugian Negara: Danantara Dikabarkan Jajaki Perluasan Kampanye Anti-Underinvoicing ke Ekspor Garmen, Alas Kaki, dan Barang Mewah

  • Rumor yang Beredar: Menyusul langkah memusatkan ekspor batu bara dan CPO, badan investasi negara Danantara dilaporkan membidik dugaan kebocoran pendapatan di sektor manufaktur garmen, alas kaki, dan barang mewah.
  • Tudingan: Rumornya, memo yang bocor menunjukkan bahwa badan tersebut menuduh merek global melakukan “skema transfer pricing yang sistemik dan merugikan,” menepis markup ritel standar (seperti pemasaran dan kekayaan intelektual) sebagai “mitos akuntansi kreatif yang dirancang untuk menyedot kekayaan Indonesia.”
  • Argumen Utama: Gosipnya, seorang pejabat yang memimpin komite eksplorasi menyampaikan temuan ini kepada otoritas perdagangan:

“Saya cek sepatu Nike dilaporkan bernilai $20 saat diekspor dari Indonesia, tapi saya cek sendiri di Eropa dan Amerika, sepatu yang sama dijual seharga $200. Ini jelas di-underinvoice sebesar 90%. Rimowa adalah contoh lain. Nilainya di bea cukai saat diekspor adalah $200, tapi saya lihat di butiknya dijual seharga $3.000. Ini adalah underinvoicing yang tidak tahu malu dan menghina kedaulatan Indonesia.”

  • Fase 1 (Mempajaki “Aura”): Danantara akan bertindak sebagai “Pengawas Transaksi,” mewajibkan setiap merek untuk melaporkan harga ritel global akhir langsung di Pelabuhan Tanjung Priok sebelum pengiriman (misalnya, melaporkan koper dengan nilai butik $3.000 daripada biaya perakitannya yang $200).
  • Fase 2 (Satu-satunya Rekanan Global): Rencana puncaknya memproyeksikan Danantara sebagai pembeli eksklusif untuk semua barang bermerek buatan Indonesia. Pabrik akan menjual ke pemerintah dengan biaya produksi dasar, dan Danantara akan menjual grosir barang tersebut kembali ke pusat distribusi global merek terkait, menahan margin ritel yang “hilang” tersebut sebagai laba kedaulatan negara.

Author: Mata Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *