Sorotan Lokal,  Wisata

Sambas: Lebih dari Sekadar Perjalanan, Ini Soal Rasa

Pernah kepikiran buat main ke Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat? Kalau belum, mending masukin ke bucket list deh. Soalnya, Sambas itu tipe tempat yang nggak cuma buat difoto, tapi buat dirasain atmosfernya. Orang-orang menyebutnya Bumi Serumpun Sebalai, sebuah tanah yang punya cerita dalam buat siapa pun yang mau eksplor pelan-pelan.

Kesan Pertama: Bandara Mini dan Hutan Gambut

Cerita dimulai waktu mendarat di Bandara Singkawang. Bandara ini unik, cuma punya satu gate, berasa kayak pintu masuk rahasia menuju pedalaman Kalbar. Dari situ, butuh waktu sekitar dua jam buat sampai ke Sambas.

Di perjalanan, kamu bakal disuguhi pemandangan khas: jalanan yang kadang masih berpasir dan berbatu, diapit hutan gambut di kiri-kanan. Sopir saya sempat cerita kalau tanah gambut ini sensitif banget sama api—salah dikit bisa kebakaran hebat. Tapi uniknya, begitu lepas dari area gambut, pemandangan langsung berubah jadi hamparan kebun nanas dan sawit.

“Nanas di sini manisnya juara, Bang! Penjualnya juga jago banget ngupasnya,” kata si sopir sambil ketawa.

Tapi di balik hijaunya kebun sawit, ada obrolan pahit yang sering saya dengar dari warga lokal. Katanya, lahan-lahan luas itu bukan punya warga sana. Hasil sawitnya pun cuma dihargai murah, dan mereka sendiri bingung uang hasil buminya lari ke mana. Ironis ya?

Serambi Mekah yang Penuh Toleransi

Sambas punya dua julukan keren: Serambi Mekah Kalbar dan Bumi Serumpun Sebalai.

Kenapa Serambi Mekah? Karena sejarah Islam di sini kuat banget. Sambas adalah tanah kelahiran ulama besar sekelas Syaikh Ahmad Khotib Assambasi yang namanya harum sampai ke luar negeri.

Sedangkan julukan “Bumi Serumpun Sebalai” itu gambaran indahnya toleransi di sini. Ada tiga suku besar—Melayu, Tionghoa, dan Dayak—yang hidup rukun banget. Mereka punya prinsip serumpun (satu keluarga yang saling jaga) dan sebalai (hidup bareng dalam satu ruang). Asli, adem banget liatnya!

Budaya Ngopi dan Porsi Makan “Bar-Bar”

Ada satu hal yang bikin Sambas terasa hidup banget: Budaya Warung Kopi. Di sini, warkop itu ruang sosial buat siapa aja. Kalau malam, isinya anak muda yang nongkrong. Kalau pagi—apalagi weekend—isinya malah rombongan keluarga lengkap dari kakek sampai cucu.

Oh iya, tips buat kamu yang mau makan di sini: siapin perut! Porsi nasi di Sambas itu “ajaib”. Sekali pesan, porsinya bisa dua kali lipat porsi normal di Jawa, tapi harganya tetap ramah di kantong.

Alam yang Masih “Perawan” dan Cerita Perbatasan

Hampir 40% wilayah Sambas itu masih hutan, dan pantainya? Bersih banget! Ada Pantai Sungai Belacan yang masih murni alias belum banyak dijamah turis.

Terus ada Desa Temajuk di perbatasan Indonesia-Malaysia. Perjalanan ke sana itu healing banget: aspal mulus membelah hutan, langit biru, dan bukit-bukit hijau. Tapi ada fakta unik sekaligus miris di perbatasan: warga di sana bilang barang-barang dari Malaysia malah lebih murah dan gampang didapat dibanding produk lokal. Bahkan, sistem barter masih sering terjadi di sana.

Menutup Hari di Sungai Sambas

Nggak lengkap ke Sambas tanpa mampir ke Masjid Jami Keraton Sambas. Ini masjid tertua di Kalbar dan bangunannya bener-bener jadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Sambas dulu.

Setelah dari masjid, coba deh susur sungai pakai perahu. Melihat rumah-rumah tradisional di pinggir sungai dengan aktivitas warga yang masih pakai air sungai buat sehari-hari itu rasanya kayak lagi melihat sejarah yang masih “napas”.

Intinya: Sambas itu bukan cuma soal nama atau lokasi di peta. Sambas itu tentang pertemuan budaya, alam yang cantik, sejarah yang kuat, dan orang-orangnya yang hangat. Worth to visit!

Author: Mata Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *