
Sektor Tambang Dihantui PHK dan Kehilangan Potensi ‘Windfall’ di Tengah Keterlambatan RKAB & Pemangkasan Produksi
Bloomberg/Kontan – 13 April 2026 – Industri pertambangan Indonesia tengah menghadapi badai sempurna akibat keterlambatan persetujuan RKAB 2026, pemangkasan produksi nasional yang agresif, dan lonjakan biaya operasional. Keputusan pemerintah mengembalikan skema RKAB dari tiga tahunan menjadi tahunan telah menyebabkan kemacetan operasional yang parah di awal tahun. Ditambah lagi, ESDM memangkas target produksi secara drastis, membatasi batu bara di level 600 juta ton (turun 15%) dan memangkas kuota bijih nikel hingga 30%. Akibatnya, kontraktor tambang raksasa seperti PT Pamapersada Nusantara (PAMA) terpaksa mulai melakukan PHK dan penyesuaian tenaga kerja di tengah menyusutnya kuota serta lonjakan biaya bahan bakar yang diperparah oleh ketegangan Timur Tengah dan mandatori B50.
Para ekonom memperingatkan bahwa pemangkasan produksi yang disengaja ini—yang bertujuan mengendalikan oversupply—akan menjegal langkah Indonesia untuk meraup keuntungan maksimal (windfall) dari lonjakan harga komoditas global saat ini. Meskipun Kementerian Keuangan tengah memfinalisasi bea keluar dan royalti baru, Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengestimasikan tambahan pendapatan negara hanya akan terbatas di kisaran Rp20–Rp90 triliun karena menyempitnya basis volume produksi. Selain itu, produksi tembaga nasional juga masih tertahan akibat perbaikan tambang bawah tanah Grasberg milik PT Freeport Indonesia, yang menunda pencapaian target produksi katoda tembaga hingga kuartal II-2026.
Sektor hilir nikel berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap turbulensi ini. PT Vale Indonesia memperingatkan bahwa industri tengah berjuang menghadapi gangguan rantai pasok yang parah, terutama kelangkaan sulfur dari Timur Tengah untuk operasi smelter HPAL. Para pelaku industri mendesak pemerintah untuk menyeimbangkan pengendalian pasokan, memperingatkan bahwa mengerek harga secara artifisial melalui kuota ekstrem dapat menghancurkan permintaan jangka panjang nikel dan daya saingnya terhadap teknologi alternatif seperti baterai LFP.

