Menengok Sejarah di Kawasan Cikini, Dari Kantor Pos Sampai Pabrik Roti Tertua

Kawasan Cikini di Jakarta Pusat bukan sekadar jalur penghubung sibuk menuju area Senen. Jalanan ini sejatinya adalah “museum hidup” yang merekam jejak panjang sejarah peradaban Ibu Kota. Kekayaan historis inilah yang mendasari rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memproyeksikan Cikini sebagai salah satu destinasi utama paket wisata perkotaan (urban tourism).

Bagi Anda pencinta wisata sejarah atau sekadar penikmat tata kota klasik, bersiaplah untuk bernostalgia. Berikut adalah deretan jejak sejarah dan bangunan ikonik yang menjadi saksi bisu perkembangan kawasan Cikini dari masa ke masa:

1. Warisan Tanah Sang Pelukis Legendaris, Raden Saleh

Sejarah Cikini tidak bisa dilepaskan dari sosok pelukis maestro keturunan Jawa-Arab, Raden Saleh Sjarif Boestaman. Pada zaman kolonial, ia adalah figur sosialita yang mahakaryanya diakui hingga ke daratan Eropa.

Sepulangnya dari penjelajahan di Eropa dan Aljazair, Raden Saleh membeli lahan yang sangat luas di Cikini. Ia membangun rumah megah yang terinspirasi dari Istana Callenberg, Jerman (bangunan ini kini difungsikan sebagai Rumah Sakit PGI Cikini). Kedermawanannya tercatat abadi ketika ia menghibahkan sebagian besar lahannya pada tahun 1862 untuk dijadikan taman umum dan kebun binatang.

2. Taman Ismail Marzuki (TIM): Berawal dari Kebun Binatang

Lahan hibah dari Raden Saleh tersebut awalnya dikelola menjadi Taman Raden Saleh atau Kebun Binatang Cikini. Seratus tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1964, kebun binatang ini dipindahkan ke kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, agar satwa memiliki habitat yang lebih memadai.

Di atas lahan bekas kebun binatang itulah, Gubernur Ali Sadikin membangun sebuah mahakarya baru. Pada tahun 1968, lokasi ini diresmikan sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM), pusat kesenian dan kebudayaan paling prestisius di Jakarta.

3. Kantor Pos Cikini: Bertahan Sejak 1920

Sebagai fasilitas penunjang bagi permukiman kaum elite Eropa di Nieuw Gondangdia (kini kawasan Menteng), pemerintah kolonial membangun Kantor Pos Cikini pada tahun 1920.

Tujuan awalnya adalah melayani pengiriman surat dan logistik para pedagang yang hilir mudik dari luar Jawa. Hebatnya, bangunan bergaya arsitektur art deco ini masih berdiri kokoh dan beroperasi melayani masyarakat hingga detik ini, menjadikannya salah satu landmark tak tergantikan di Cikini.

4. Pabrik Roti Tan Ek Tjoan (Sejak 1921)

Tidak jauh dari kantor pos, terdapat pionir bisnis kuliner Jakarta, yakni Tan Ek Tjoan. Berdiri sejak tahun 1921, pabrik roti tertua di Jakarta ini pada mulanya memproduksi roti khusus untuk lidah orang-orang Belanda. Namun seiring waktu, variannya meluas dan sangat merakyat, salah satu yang paling legendaris adalah roti gambang.

Meskipun sejak tahun 2015 lokasi pabriknya telah dipindah ke Ciputat (mengikuti regulasi Pemprov DKI yang melarang adanya pabrik di pusat kota), kelezatan otentik roti ini masih bisa Anda temukan melalui para pedagang gerobak keliling di penjuru ibu kota.

5. Toko Kacamata A. Kasoem: Pionir Optik Nusantara

Cikini juga menjadi saksi lahirnya ahli kacamata pertama dari kalangan bumiputra, yakni Atjoem Kasoem (A. Kasoem). Keahliannya membuat kacamata begitu diakui, hingga karyanya sempat dijadikan kacamata resmi (official glass) bagi jajaran pemerintah Republik Indonesia di awal masa kemerdekaan. Saat ini, bangunan bersejarah tersebut menjadi kantor pusat bagi lini bisnis Kasoem Group.

6. Kediaman Hasyim Ning sang “Raja Mobil”

Cikini dulunya adalah kawasan permukiman kelas atas. Salah satu buktinya adalah keberadaan rumah megah milik Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning, seorang pengusaha sukses asal Sumatera Barat. Berkat sepak terjangnya sebagai importir mobil asal Amerika, ia pernah dijuluki “Raja Mobil Indonesia”. Rumah peninggalannya yang megah kini masih dirawat dan ditinggali oleh keturunannya.

Titik Sejarah Lainnya di Kawasan Cikini

Di luar deretan bangunan di atas, Cikini masih menyimpan beberapa lokasi legendaris yang menyimpan cerita uniknya masing-masing, antara lain:

Nama Tempat / TokohKeterangan Sejarah
Ibu Dibjo (Ida Kurani Soedibjo)Kediaman sang “Ratu Tiket Indonesia”, pionir bisnis penjualan tiket berbagai acara hiburan secara independen di ibu kota.
Bakoel KoffieKafe legendaris yang meneruskan tradisi warung kopi racikan otentik di Batavia yang eksis sejak abad ke-19 (tahun 1878).
Rumah Achmad SoebardjoKediaman pribadi Menteri Luar Negeri RI pertama, yang bangunan rumahnya bahkan sempat difungsikan sebagai Kantor Kementerian Luar Negeri.

Author: Mata Bumi

Leave a Comment