BBC | 14 Juli 2026
- Antrean Berujung Maut: Kelangkaan BBM bersubsidi di Palembang dan Medan telah memicu antrean panjang berjam-jam, yang mengakibatkan seorang sopir truk berusia 50 tahun meninggal dunia akibat kelelahan. Situasi ini sangat mengganggu aktivitas transportasi dan distribusi barang daerah, hingga Organda menyebutnya sebagai kondisi “darurat BBM”.
- Kesenjangan Kuota: Terdapat ketimpangan besar di Sumatra Selatan antara usulan kuota BBM sekitar 2,8 juta kiloliter dengan realisasi yang hanya disetujui sebesar 630.000 kiloliter.
- Dugaan Sindikat & Barcode: Gubernur Sumsel Herman Deru menduga krisis ini diperparah oleh sindikat distribusi dan penyalahgunaan barcode MyPertamina. Pengamat kebijakan publik M. Husni Thamrin mendesak agar mafia ini dibongkar secara transparan dan menuntut pemerintah berhenti saling lempar tanggung jawab.
- Respons Pertamina: Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa stok solar bersubsidi di Sumsel sebenarnya aman dan telah disuplai sesuai dengan kuota yang ditetapkan BPH Migas. Sebagai langkah penertiban, Pertamina telah menjatuhkan sanksi kepada 130 SPBU dan 2 Pertashop yang terbukti melanggar aturan distribusi.
- Pergeseran Pola Konsumsi: Pengamat energi UGM Fahmy Radhi menilai disparitas harga yang tinggi antara Pertamax (sekitar Rp16.250/liter) dan Pertalite (sekitar Rp10.000/liter) telah mendorong konsumen beralih secara besar-besaran ke BBM bersubsidi. Ia juga menyebut konflik AS-Iran di Selat Hormuz turut memperketat pasokan energi secara global.
