Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) merepresentasikan entitas geografis tunggal yang menyatukan situs dan lanskap signifikansi geologi internasional ke dalam sebuah model pengelolaan holistik yang mencakup aspek perlindungan, pendidikan, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Terletak di wilayah administratif Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kawasan ini memiliki luas mencapai kurang lebih 126.100 hingga 128.000 hektar yang mencakup 74 desa di delapan kecamatan, yaitu Cisolok, Cikakak, Palabuhanratu, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Waluran, dan Surade. Sebagai Geopark Global UNESCO pertama di Jawa Barat yang diresmikan pada April 2018, CPUGG memegang predikat sebagai “The First Land of Western Java Island,” sebuah narasi geologi yang merujuk pada keberadaan singkapan batuan tertua di permukaan pulau tersebut.
Signifikansi kawasan ini tidak hanya terletak pada aspek fisik batuan, melainkan pada bagaimana interaksi antara lempeng tektonik selama jutaan tahun telah membentuk ekosistem yang mendukung keanekaragaman hayati unik dan memelihara peradaban manusia melalui kearifan lokal masyarakat adat Kasepuhan. Mari mengeksplorasi secara mendalam evolusi geologi, kekayaan hayati, pilar budaya, serta strategi pengembangan pariwisata dan infrastruktur yang menghubungkan kawasan ini dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti Bekasi dan Jakarta.
Evolusi Geologi dan Dinamika Tektonik: Menyingkap Sejarah Bumi
Signifikansi Geosite dan Lanskap Air Terjun
Paleontologi dan Keanekaragaman Hayati
Warisan Budaya dan Kearifan Lokal Kasepuhan
Aksesibilitas dan Konektivitas Wilayah
Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark merupakan aset strategis bagi Jawa Barat dan Indonesia yang berhasil mengintegrasikan narasi pembentukan bumi sejuta tahun lalu dengan kehidupan sosial budaya masyarakat masa kini. Keberadaannya bukan hanya sebagai destinasi wisata estetis, melainkan sebagai wadah pelestarian lingkungan yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui konsep geowisata.
Dukungan infrastruktur yang semakin baik dari arah Jakarta dan Bekasi melalui Tol Bocimi akan terus meningkatkan daya tarik kawasan ini sebagai destinasi liburan keluarga sekaligus tempat belajar bagi para ilmuwan. Namun, pertumbuhan ini harus dikelola dengan bijaksana agar tidak merusak esensi dari geopark itu sendiri: harmoni antara manusia, budaya, dan alam semesta yang telah terbentuk sejak zaman Kapur hingga saat ini. Keberlanjutan CPUGG di masa depan akan sangat bergantung pada kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal dalam menjaga warisan “tanah pertama” di Jawa Barat ini bagi generasi mendatang.