Di Jerman Ada 700 Manuskrip Kuno Nusantara: Ini Asal-Usul dan Fakta di Baliknya

Warisan budaya dan sejarah Indonesia tidak hanya tersimpan rapat di dalam negeri, tetapi juga tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satu negara yang mengoleksi banyak benda bersejarah Indonesia adalah Jerman.

Dalam sebuah webinar bertajuk “Mempertahankan Identitas Bangsa Melalui Koleksi Bersejarah dan Warisan Budaya” yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas), terungkap bahwa terdapat ratusan manuskrip atau naskah kuno Nusantara yang kini tersimpan di lembaga-lembaga kebudayaan dan arsip di Jerman.

Bagaimana asal mula ratusan naskah kuno tersebut bisa berada di Eropa, dan bagaimana nasib kelestariannya saat ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

1. Asal Mula Manuskrip Nusantara Sampai ke Jerman

Peneliti naskah koleksi Indonesia dari Staatsbibliothek zu Berlin (Perpustakaan Negara Berlin), Thoralf Hanstein, mengungkapkan bahwa di institusinya saja kini tersimpan hampir 700 objek naskah kuno Nusantara.

Asal-usul keberadaan ratusan naskah ini tak lepas dari rekam jejak masa lalu:

  • Era Kolonialisasi: Pada era Hindia Belanda, banyak warga negara Jerman yang bekerja atau menetap di wilayah Nusantara.

  • Koleksi Pribadi: Ketika mereka kembali ke tanah airnya di Jerman, mereka membawa pulang berbagai dokumen dan naskah kuno sebagai cinderamata, dokumen kerja, atau koleksi pribadi.

  • Tersimpan di Daerah: Seiring berjalannya waktu, koleksi pribadi tersebut diserahkan atau tersimpan dalam arsip-arsip daerah kecil di penjuru Jerman yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh peneliti dunia.

2. Tersebar di Lebih dari 20 Institusi

Peneliti lainnya dari Staatsbibliothek zu Berlin, Yonnes Dehghani, menambahkan bahwa saat ini ada lebih dari 20 lembaga di Jerman yang memiliki koleksi manuskrip oriental dan Asia, termasuk dari Indonesia.

Banyaknya lokasi penyimpanan ini sempat menyulitkan para peneliti untuk melacak naskah tertentu. Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak Jerman tengah mengintegrasikan seluruh koleksi naskah Nusantara ke dalam sebuah katalog terpadu berbasis portal yang disebut Union Catalogue.

3. Bebas Akses Digital Kualitas Tinggi

Kabar baiknya, proses digitalisasi terhadap naskah-naskah kuno tersebut terus digenjot secara masif.

Thoralf menyebutkan bahwa sekitar sepertiga dari 700 naskah Nusantara di Berlin telah didigitalisasi. Naskah-naskah ini dapat diakses secara daring (online) dengan kualitas gambar tinggi secara gratis, baik untuk kepentingan riset pribadi, ilmiah, maupun kebutuhan bisnis.

4. Tantangan Pelestarian: Antara Informasi dan Fisik

Dari dalam negeri, Subkoordinator Perawatan dan Perbaikan Bahan Perpustakaan Terekam dan Naskah Kuno Perpusnas, Aris Riyadi, mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam upaya pelestarian.

Aris mengibaratkan naskah kuno bagaikan koin emas dengan dua sisi berharga:

  1. Sisi Nilai Informasi: Kandungan isi cerita, sejarah, dan ilmu pengetahuan di dalamnya.

  2. Sisi Nilai Fisik: Lembaran kertas, lontar, atau media tulis kuno yang memuat naskah tersebut.

Menurut Aris, saat ini marak lembaga gencar melakukan digitalisasi demi mengejar nilai informasinya saja, namun sasaran fisik naskah kuno tersebut justru kerap diabaikan hingga lapuk dimakan waktu. Padahal, setiap bahan—baik kertas, kulit kayu, maupun lontar—membutuhkan penanganan fisik yang spesifik.

5. Menatap Kejayaan Masa Lalu untuk Masa Depan

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, menegaskan bahwa menggali isi yang terkandung dalam naskah kuno Nusantara adalah kunci untuk mengaktualisasikan makna perjuangan sejarah bangsa.

Naskah-naskah kuno menjadi bukti otentik bagi generasi muda bahwa bangsa Indonesia telah mencapai peradaban yang tinggi dan kejayaan yang luar biasa ribuan tahun sebelum resmi berdiri sebagai sebuah negara kesatuan. Pemikiran dan kearifan para raja serta leluhur di masa lampau harus terus diangkat dan relevan dengan konteks kehidupan masa kini.

Author: Mata Bumi

Leave a Comment