Tanah Aceh tidak hanya dikenal dengan sejarah perjuangannya, tetapi juga sebagai salah satu simpul utama peradaban maritim dan perdagangan rempah dunia di masa lampau. Di wilayah ini, tumbuh sebuah komoditas bernilai tinggi yang dijuluki “wewangian para raja”, yakni Gaharu (Aquilaria malaccensis).
Bersama dengan pala dan cengkeh, gaharu pernah membawa Kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera Pasai, menuju puncak kejayaan dan diakui sebagai salah satu penghasil rempah terbaik di dunia.
Berikut adalah potret sejarah, catatan penjelajahan, hingga potensi masa depan komoditas gaharu di Serambi Mekkah.
1. Gaharu: Harta Karun Beraroma Mewah yang Mulai Langka
Gaharu merupakan tanaman yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku wewangian sejak zaman kuno. Bagian paling bernilai dari pohon ini adalah keraknya (resin kayu yang menghitam dan beraroma khas akibat infeksi jamur), yang sering dibakar untuk mengharumkan tubuh atau ruangan.
Di Kabupaten Aceh Utara, jenis gaharu yang mendominasi adalah malaccensis. Pohon ini tumbuh subur di sepanjang jalur rempah Pulau Sumatera, yang kemudian komoditasnya diekspor ke Thailand, Malaysia, India, hingga kawasan Timur Tengah.
Sayangnya, pasca-kemerdekaan Indonesia, pohon gaharu mulai langka karena kurangnya budidaya lanjutan. Terpiadi A. Majid, salah satu pengusaha gaharu di Desa Mampre, Aceh Utara yang bertani sejak 2015, menyayangkan kondisi ini padahal nilai ekonomi gaharu sangatlah tinggi.
2. Catatan Ibnu Batutah: Ruangan Harum Sultan Samudera Pasai
Kejayaan Samudera Pasai (yang berdiri sejak 1267 dengan raja pertama Sultan Malikussaleh) terekam abadi dalam catatan penjelajah Muslim mahsyur dari Maroko, Ibnu Batutah.
Dalam kunjungannya selama 15 hari pada tahun 1345, Ibnu Batutah berkesempatan bertemu dengan Sultan Malik Az-Zahir (raja keempat). Pertemuan yang terjadi usai salat Jumat tersebut menyisakan catatan yang sangat menarik mengenai aroma Istana:
Sultan menyambut Ibnu Batutah di sebuah ruangan yang beraroma sangat harum.
Saat Sultan masuk ke ruangan lain yang lebih besar untuk berganti pakaian, ruangan tersebut juga tercium harum semerbak.
Meskipun Ibnu Batutah tidak menyebutkan nama wewangiannya secara spesifik, para sejarawan meyakini bahwa keharuman tersebut berasal dari asap pembakaran kerak gaharu, yang saat itu merupakan primadona pewangi alami istana.
Sultan Malik Az-Zahir dikenal sebagai pemimpin yang alim, dermawan, dan dicintai rakyatnya. Saat Ibnu Batutah pamit untuk melanjutkan pelayaran ke Afrika, Sultan membekalinya dengan berbagai hadiah mewah, antara lain:
Uang dirham (emas)
Berbagai perbekalan makanan dan rempah-rempah
Perlengkapan berlayar, bahkan beserta satu unit kapal penuh!
3. Menelusuri Misteri Jalur Rempah dan Teluk Samawi
Meski kemasyhuran Samudera Pasai tak terbantahkan, Peneliti Senior Centre for Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH), Tgk Taqiyuddin Muhammad, mengungkapkan bahwa jalur dagang kerajaan ini belum diteliti secara detail dan komprehensif, terutama dari literatur luar negeri (seperti catatan di Gujarat, India, atau China).
Namun, bukti interaksi bisnis internasional sangat jelas terlihat dari ribuan batu nisan (efigraf) makam kuno di Aceh yang memiliki corak beragam, mulai dari gaya Mongolia hingga India.
“Saya menduga, pelabuhan utama Kerajaan Samudera Pasai itu di Teluk Samawi (kini kawasan pusat Kota Lhokseumawe). Dari sinilah seluruh kapal asing mengangkut barang dagangan yang didominasi rempah-rempah ke negara-negara lain,” jelas Taqiyuddin.
4. Membangkitkan Kembali Kejayaan Masa Lalu
Melihat jejak sejarah yang begitu megah, Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, Prof. Herman Fithra, menyarankan agar pelabuhan di Aceh saat ini dikembangkan dengan mengacu pada konsep masa lalu.
Kunci utamanya adalah membangkitkan kembali sektor pertanian dan rempah. Di masa lalu, kapal asing yang masuk ke Samudera Pasai tidak pernah pulang dengan lambung kosong; mereka selalu dipenuhi muatan rempah yang kaya. Saat ini, karena sektor pertanian melemah, kapal asing sering berangkat dalam kondisi kosong yang memicu tingginya biaya operasional pelabuhan.
Sejalan dengan hal tersebut, Terpiadi A. Majid juga berharap pemerintah kembali membudidayakan gaharu secara masif. Selain perawatannya yang mudah, nilai jualnya yang fantastis diyakini mampu mengentaskan kemiskinan dan mengembalikan Aceh pada kejayaan ekonominya, layaknya era Samudera Pasai ratusan tahun silam.
