Dalam kosmologi masyarakat tradisional di Pulau Lombok, Gunung Rinjani bukanlah sekadar onggokan batu dan tanah raksasa yang mati. Ia ditempatkan di maqam tertinggi—sebagai pasak bumi yang suci, poros spiritual, sekaligus orang tua yang rahimnya terus memancarkan air kehidupan. Ikatan batin yang begitu erat antara manusia Sasak dan gunungnya telah melahirkan sistem kebudayaan yang luar biasa arif dalam menjaga kelestarian alam.
Melalui “Mata Bumi”, kita akan menguak sisi mistis dan filosofis dari Geopark Rinjani: tentang ritual larung emas di danau purba hingga kearifan kuno yang melindungi hutan dari keserakahan manusia.
🐟 Ritual Mulang Pakelem: Larung Emas di Kawah Segara Anak
Setiap beberapa tahun sekali, dasar Kaldera Rinjani di tepi Danau Segara Anak menjadi saksi dari sebuah ritual kolosal nan sakral bernama Mulang Pakelem. Ritual ini merupakan upacara kerukunan umat yang dirayakan bersama oleh masyarakat Hindu Bali-Lombok dan berakulturasi dengan kearifan lokal Suku Sasak.
- Ziarah Fisik dan Batin: Para pemangku adat dan ribuan umat akan melakukan pendakian ekstrem, memikul berbagai sesajen (banten) seberat puluhan kilogram menembus jalur terjal Rinjani demi menuju dasar kaldera.
- Melarung Logam Mulia: Puncak ritual ditandai dengan pelarungan sesajen khusus ke tengah Danau Segara Anak menggunakan perahu kecil. Di dalam sesajen tersebut, terdapat pakelem berupa benda-benda suci yang terbuat dari emas, perak, dan tembaga yang ditempa menyerupai bentuk ikan atau udang laut.
- Makna Mendalam: Melalui kacamata hidrologi purba, ritual ini adalah simbolisasi rasa terima kasih yang mendalam atas aliran air murni yang tiada henti dari danau kaldera ke dataran rendah, sekaligus doa permohonan agar siklus hujan tetap terjaga dan magma Rinjani tetap tenang di tempatnya.
🌾 Filosofi Wetu Telu: Penjaga Keseimbangan Tiga Semesta
Di desa-desa adat tua yang terletak di kaki Rinjani, seperti di Desa Adat Bayan, masyarakat Sasak mempertahankan sebuah filosofi hidup yang sangat unik bernama Wetu Telu (secara harfiah berarti “Muncul Tiga”).
Filosofi ini mengajarkan bahwa kehidupan di bumi ditopang oleh tiga pilar utama yang saling terikat: hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya.
Implementasi Hukum Adat Mata Bumi: Filosofi Wetu Telu mewujud secara nyata dalam sistem Awig-Awig (hukum adat). Di lereng Rinjani, berlaku larangan keras menanam pohon sembarangan, mengotori mata air, atau menebang pohon di kawasan hutan lindung adat (Gwen Paer). Siapa pun yang melanggar akan dikenakan sanksi moral dan denda adat berupa penyerahan hewan ternak atau beras kepada komunitas desa. Hukum spiritual ini terbukti jauh lebih efektif dalam mencegah pembalakan liar dibandingkan papan larangan hukum modern.
👁️ Sudut Pandang “Mata Bumi”
Kebudayaan Suku Sasak di bawah bayang-bayang Rinjani memberikan refleksi mendalam tentang cara kita memandang planet ini. Rinjani membuktikan bahwa kelestarian alam tidak bisa dicapai hanya dengan hitungan matematika sains atau penegakan hukum formal di atas kertas. Alam akan lestari ketika manusia menaruh rasa hormat spiritual yang tinggi kepadanya. Dengan menganggap air danau sebagai tetesan suci dan memperlakukan hutan sebagai area terlarang yang sakral, manusia Rinjani telah berhasil merawat menara air mereka agar tetap mengalir abadi untuk generasi masa depan.
